Tampilkan postingan dengan label Planet Dan Satelit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Planet Dan Satelit. Tampilkan semua postingan

Astronom Temukan Planet Kerdil Terjauh Di Tata Surya

Ilustrasi

AstroNesia ~ Para astronom telah menemukan sebuah planet kerdil misterius yang berjarak tiga kali lebih jauh dari Pluto dan diyakini menjadi obyek paling jauh di tata surya kita.

Planet kerdil ini dikenal sebagai V774104, pegumuman penemuan dilakukan pada hari Selasa di pertemuan American Astronomical Society dan hal ini bisa menunjukkan adanya planet pengembara di lingkungan langit kita.

Planet kerdil
V774104 saat ini berjarak 15,4 miliar kilometer (9,6 miliar mil) dari Matahari atau sekitar 103 unit astronomi (AU) dari Matahari. (1 AU = jarak rata-rata Bumi ke Matahari).



Para astronom menduga diameter planet kerdil ini antara 310 dan 620 mil. Scott Sheppard, astronom dari Carnegie Institution for Science di Washington, mengumumkan penemuan itu dan mengatakan bahwa saat ini, orbit planet kerdil ini tetap tidak diketahui.

"Kita tidak bisa benar-benar mengklasifikasikan obyek ini karena kita tidak tahu orbitnya.

"Kami baru saja menemukan obyek ini beberapa minggu yang lalu."


"Planet kerdil ini bisa saja masuk dalam objek tata surya yang memiliki orbit aneh dan ekstrim yang menunjukkan mungkin mereka dipengaruhi oleh planet pengembara atau bintang dekat," kata sebuah laporan dalam jurnal Science.

Penemuan itu dilakukan dengan menggunakan Subaru Telescope di Hawaii.


Sebelumnya, objek tata surya yang paling jauh diumumkan pada tahun 2005 - sebuah planet kerdil bernama Eris, berjarak 97 AU dari Matahari

'Penemuan V774104 adalah bukti bahwa tata surya lebih besar dari yang kita duga, "kata Joseph Burns, profesor teknik dan astronomi di Universitas Cornell. "Kami membutuhkan sedikit waktu untuk menjabarkan orbit dan menentukan ukuran yang tepat dari objek ini. 


Objek tata surya jauh lainnya, seperti Sedna yang ditemukan pada tahun 2003, dan VP113, ditemukan pada tahun 2012.

Dengan jarak lebih dari 80 kali lebih jauh dari jarak matahari ke Bumi, keduanya masih lebih dekat dibanding V774101, yang saat ini berjarak 103 kali lebih jauh dari matahari ke Bumi.


Sheppard mengatakan akan mengambil satu tahun pengamatan untuk menentukan apakah V774101 melakukan perjalanan ke lingkungan Pluto, sebuah daerah di luar Neptunus yang dikenal sebagai Sabuk Kuiper. Wilayah ini berisi ribuan planet kerdil, ada yang berjarak 40 sampai 50 AU.

"Jika planet kerdil ini tidak pernah mendekati Neptunus, hal ini akan membuat objek itu sangat menarik karena orbitnya akan terganggu oleh planet raksasa lain dan dengan demikian memungkinkan kita untuk memahami dinamika tata surya bagian luar", kata Sheppard.

Sheppard adalah bagian dari tim yang melakukan pencarian paling luas untuk objek jauh di tata surya.

"Hal ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami karena langit malam mencakup area yang sangat besar yang hanya dapat dicari oleh satu teleskop menunjuk pada suatu waktu," kata Sheppard.

Phobos Diperkirakan Akan Hancur Oleh Gravitasi Mars

Bulan Mars Phobos

AstroNesia ~ Phobos, bulan terbesar Mars, sedang ditarik terpisah oleh gaya pasang surut Mars dan ilmuwan bahwa bulan ini akan hancur dalam 30 sampai 50 juta tahun.

Alur dangkal dan panjang yang membungkus permukaan Phobos adalah tanda-tanda awal dari kegagalan struktural yang pada akhirnya akan menghancurkan bulan ini.

"Kami berpikir bahwa Phobos sudah mulai gagal, dan tanda pertama dari kegagalan ini adalah kemunculan alur ini," kata Terry Hurford dari NASA Goddard Space Flight Center.




Mengorbit hanya 3.700 mil (6.000 kilometer) di atas permukaan Mars, Phobos adalah Bulan yang mengorbit paling dekat dengan planet induknya dibandingkan bulan lainnya di tata surya. Gravitasi Mars menarik Phobos sekitar 6,6 kaki (2 meter) setiap seratus tahun.

Awalnya, alur panjang ini dianggap rekahan yang disebabkan oleh dampak yang membentuk kawah Stickney.

Tapi model baru yang dilakukan oleh Hurford dan rekannya mendukung pandangan bahwa alur ini lebih seperti "tanda" yang terjadi ketika bulan akan di cacatkan oleh gaya pasang surut dan interior Phobos bisa menjadi tumpukan puing-puing, nyaris tidak saling mengikat, dikelilingi oleh lapisan tepung regolit yang memiliki ketebalan sekitar 330 kaki (100 meter).

Para ilmuwan juga menemukan bahwa alur ini tidak memancar dari kawah melainkan dari titik fokus terdekat.

Tarikan gravitasi antara Mars dan Phobos menghasilkan kekuatan pasang surut.


Nasib yang sama mungkin menunggu bulan Neptunus, Triton, yang juga perlahan-lahan di tarik lebih dekat ke Neptunus dan memiliki permukaan yang juga retak.

Temuan ini disajikan
dalam Pertemuan tahunan Division of Planetary Sciences of the American Astronomical Society di National Harbor, Maryland.

Astronom Temukan Planet "Kembaran Venus" Paling Dekat Bumi

Ilustrasi GJ 1132b

AstroNesia ~ Astronom berhasil temukan planet baru berjarak 39 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini adalah planet terdekat yang memiliki ukuran hampir menyamai ukuran Bumi yang pernah ditemukan dan berpotensi menjadi "kembaran Venus".

Salah satu penyebab frustrasi saat mempelajari planet di sekitar bintang lain adalah jarak dari Bumi, yang membuatnya susah atau tidak mungkin mendapatkan banyak rincian dasar tentang mereka. Ditambah lagi karena setiap cahaya yang mereka pancarkan (cahaya yang akan memberikan petunjuk tentang apa yang terjadi di permukaannya) sering dikalahkan oleh cahaya bintang induknya.



Namun planet yang baru ditemukan ini, disebut GJ 1132b, berjarak sangat dekat dari Bumi dalam ukuran kosmik, mengorbit bintang yang cukup redup, dan tampaknya menjadi dunia berbatu lengkap dengan atmosfer. Suhu permukaan planet ini menunjukkan bahwa hal itu mungkin memiliki banyak kesamaan dengan Venus dibanding Bumi.

Drake Deming, seorang profesor astronomi di University of Maryland, menulis tentang GJ 1132b dalam sebuah artikel di jurnal Nature, mencatat bahwa "pentingnya dunia baru ini berasal dari beberapa faktor."

Faktor pertama dari adalah ukurannya - hanya 1,2 kali massa Bumi, dan faktor kedua adalah kedekatannya - hanya 39 tahun cahaya dari matahari kita. Faktor-faktor ini memberikannya judul "Exoplanet yang memiliki ukuran paling dekat dengan Bumi yang saat ini ditemukan."

"Galaksi kita mencakup sekitar 100.000 tahun cahaya. Jadi ini jelas merupakan bintang tetangga yang tergolong dekat dengan Matahari," kata Zachory Berta-Thompson, Postdoc di Kavli Institute for Astrophysics and Space Research dan penulis utama dari makalah yang mengumumkan penemuan tersebut, dalam pernyataan yang sama.

Sebagian besar planet seperti Bumi atau memiliki ukuran seperti Bumi yang dikenal memiliki jarak ratusan atau ribuan tahun cahaya. Kepler-452b yang ditemukan Juli lalu dan dijuluki planet paling mirip Bumi yang ditemukan sejauh ini berjarak 1.400 tahun cahaya dari Bumi. Sebaliknya, HD 219134b yang baru ditemukan hanya berjarak 21 tahun cahaya dari Bumi, tetapi 4,5 kali lebih masif dari planet rumah kita.


Ada lagi yang membuat GJ 1132b sangat penting bagi pengamatan.

GJ 1132b ditemukan menggunakan MEarth-South telescope array, yang terdiri dari delapan teleskop 40 meter yang terletak di Cerro-Tololo Inter-Amerika Observatory di Chile. Array ini memburu exoplanet dengan metode transit (juga digunakan oleh Space Telescope Kepler), yang melihat "peredupan" reguler dalam jumlah cahaya yang datang dari bintang induknya. Peredupan ini menunjukkan bahwa sebuah planet lewat di depan bintang induknya.

GJ 1132b membutuhkan 1,6 hari untuk mengorbit Gliese 1132, bintang induknya (yang berarti orbitnya lebih kecil dari Merkurius). Ini adalah bonus bagi para astronom karena itu berarti planet ini akan lebih sering di lihat.

Kembaran Venus

Dan masih ada lagi: Pendeteksian exoplanet dengan metode transit menawarkan kemungkinan mempelajari atmosfer planet - apakah planet ini mengandung oksigen dan air, atau bahkan tanda-tanda kehidupan; pola angin; bahkan warna matahari terbenam. Saat planet lewat di depan bintang, cahaya melewati atmosfer planet, dan membawa informasi tentang bahan kimia di dalamnya.

Gliese 1132 adalah adalah bintang kerdil jenis M (juga dikenal sebagai katai merah) memiliki diameter hanya 21 persen ukuran matahari, dan memancarkan hanya satu setengah persen kecerahana dari Matahari. Walaupun ukuran planet ini jika dibandingkan dengan bintang induknya membuatnya sangat tidak seperti Bumi, ini juga merupakan keuntungan yang signifikan bagi pengamatan karena cahaya dari bintangnya tidak sepenuhnya menguasai setiap pantulan cahaya yang bisa dikumpulkan dari planet ini.

Meskipun demikian, orbit GJ 1132b sangat dekat dengan bintangnya, menerima secara signifikan lebih banyak radiasi dari Bumi, dan dengan demikian memiliki suhu permukaan lebih tinggi dari Bumi: 275-580 derajat Fahrenheit (135-304 Celcius), yang akan membuatnya mirip dengan Venus.

"Tujuan utama kami adalah untuk menemukan kembaran Bumi, tapi sepanjang jalan kami telah menemukan kembaran Venus," kata astronom David Charbonneau dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CFA), dalam sebuah pernyataan. "Kami menduga planet ini juga memiliki atmosfer seperti Venus.

Kita tahu suhu seperti itu terlalu tinggi bagi kehidupan (seperti yang kita kenal) untuk bertahan hidup, tapi itu cukup dingin untuk menjaga atmosfernya. Menurut pernyataan dari CFA, CJ 1132b adalah planet yang paling dingin dari exoplanet lainnya yang sudah dipastikan berbatu. Sebagai perbandingan, planet terkenal seperti CoRoT-7b dan Kepler-10b memiliki temperatur hingga 2.000 derajat Fahrenheit atau lebih." Pada suhu seperti ini, atmosfer yang mirip dengan Bumi atau Venus jarang bertahan.

Dalam pencarian kehidupan di tempat lain di alam semesta, beberapa ilmuwan berpikir kita harus menargetkan planet seukuran Bumi di sekitar bintang katai merah karena relatif mudah untuk mempelajari atmosfer mereka, dan karena mereka mungkin cukup umum di galaksi. Mungkin, di antara populasi planet itu, para ilmuwan akan menemukan planet yang tepat untuk mendukung kehidupan. GJ 1132b bisa menjadi langkah penting menuju penemuan itu.

Sebuah studi mendalam tentang GJ 1132b bisa dilakukan oleh teleskop Hubble atau teleskop yang lebih baik Space Telescope James Webb, yang dijadwalkan meluncur pada 2018.

Pencarian Bumi Lain (Video)

Ilustrasi Kepler-62f

AstroNesia ~ Dua puluh tahun yang lalu, para astronom mengumumkan bahwa mereka telah menemukan sebuah planet seperti Jupiter yang mengorbit di sekitar bintang yang mirip dengan matahari kita, planet itu bernama 51 Pegasi b.

Meskipun penemuan itu sangat revolusioner, menemukan sebuah planet mirip Bumi masih di luar jangkauan kita.




51 Pegasi b adalah planet pertama yang ditemukan mengorbit sebuah bintang deret utama mirip Matahari kita yang disebut 51 Pegasi, dan menandai terobosan dalam penelitian astronomi.


Nama 51 Pegasi b adalah nama resmi planet ini.

Penemuan exoplanet ini diumumkan pada tanggal 6 Oktober 1995, oleh Michel Mayor dan Didier Queloz dari Universitas Jenewa di jurnal Nature.

Dan dalam 20 tahun terakhir, para astronom telah menemukan ribuan dunia eksotis baru, mulai untuk mengkarakterisasi atmosfer planet yang jauh, dan sedang mengembangkan teknologi mutakhir untuk memulai pada pencarian kehidupan alien.


Lihat dokumenter NASA di bawah ini yang bercerita tentang pelopor dalam perburuan planet dan bagaimana kita semakin dekat untuk menjawab salah satu pertanyaan umat manusia yang paling kuno : Apakah ada kehidupan di tempat lain di alam semesta?

Badai Asam Sulfur Mengamuk Di Permukaan Venus

ESA Venus Express telah menunjukkan bahwa pusaran kutub di Venus adalah yang paling variabel dalam tata surya. Rangkaian gambar kutub selatan Venus 'diambil dengan instrumen VirTis dari Februari 2007 (kiri atas) hingga April 2008 (kanan bawah).

AstroNesia ~ Jika Anda berpikir badai di Bumi sangat buruk - pikirkan lagi.

Badan Antariksa Eropa telah mengungkapkan gambar terbaru dari wahana antariksa Venus Express yang menunjukkan badai besar Venus.

Mereka mengungkapkan pusaran raksasa berukuran sampai 4.000 km dengan kecepatan angis sampai 400 km / jam di awan tingginya.




Pada 9 November 2005, 10 tahun yang lalu hari ini, ESA pesawat ruang angkasa Venus Express meninggalkan Bumi dan memulai perjalanan 153 hari ke Venus. Wahana ini kemudian menghabiskan delapan tahun mempelajari Venus secara rinci sebelum misinya berakhir pada Desember 2014.

Salah satu tujuan misi ini adalah untuk mengamati atmosfer Venus secara terus menerus dalam jangka panjang dalam upaya untuk memahami perilaku dinamisnya.

Atmosfer Venus adalah adalah terpadat dari semua planet terestrial di Tata Surya dan terdiri hampir seluruhnya dari karbon dioksida.

Planet ini juga dibungkus dalam lapisan awan tebal yang sebagian besar terbuat dari asam sulfat.


Kombinasi gas rumah kaca dan lapisan awan abadi menyebabkan pemanasan rumah kaca yang sangat besar, membuat permukaan Venus 'sangat panas - bersuhu lebih 450 º C - dan tersembunyi dari mata kita.

Meskipun angin di permukaan Venus bergerak sangat lambat, sekitar beberapa kilometer per jam, kepadatan atmosfer pada ketinggian yang lebih tinggi begitu besar sehingga mereka mengerahkan kekuatan yang lebih besar dibanding angin tercepat di Bumi.

Citra pusaran angin ini diambil Venus Express di kutub selatan Venus.


Gambar ini diambil oleh Visible and Infrared Thermal Imaging Spectrometer (VIRTIS) antara Februari 2007 dan April 2008. Sebuah pusaran kutub yang ditangkap oleh VirTis dibuat ketika udara hangat dari khatulistiwa naik dan memutar ke arah kutub planet, menciptakan pusaran yang berputar-putar.

Gunung Berapi Es Mungkin Meletus Di Pluto

Fitur yang diduga gunung berapi es  di Pluto (terlihat di tengah) pada gambar NASA ini, ditangkap oleh pesawat ruang angkasa New Horizons. Gunung ini disebut Wright Mons, adalah fitur yang aneh yang memiliki lebar 100 mil dan tinggi 13.000 kaki dengan cekungan mirip kawah di puncaknya.

AstroNesiaGunung berapi es mungkin menjulang di tepi selatan strukur hati Pluto.

Gambar dari wahana NASA New Horizons telah mengidentifikasi dua puncak yang menjulang hampir 4 mil (6 kilometer) di atas permukaan planet kerdil itu dan ilmuwan mengatakan bahw fitur fisik puncak gunung itu 'menyarankan mungkin gunung berapi.


"Ini adalah dua fitur yang sangat luar biasa," kata Oliver White, seorang peneliti postdoctoral New Horizons di NASA Ames Research Center di California, mengatakan pada pertemuan tahunan ke-47 dari Division for Planetary Sciences of the American Astronomical Society (AAS). "Struktur seperti ini belum pernah terlihat di tata surya," katanya.



Pluto adalah sebuah dunia es kecil di tepi Tata Surya, sebagian besar tidak terlihat oleh para ilmuwan sampai pada Juli 2015, saat wahana antariksa New Horizons terbang melewatinya, memberikan umat manusia tampilan jelas pertama di permukaan planet kerdil itu.

Sebelum terbang lintas New Horizons, kebanyakan ilmuwan berpikir bahwa Pluto terlalu kecil untuk mempertahankan panas internal yang diperlukan untuk menggerakkan proses geologi seperti arus gletser dan vulkanisme. Tapi pesawat ruang angkasa yang bergerak cepat ini mengungkapkan bahwa permukaan Pluto jauh lebih muda dari ilmuwan duga, menunjukkan bahwa proses geologi sedang berlangsung di Pluto, dan sesuatu harus menjaga hal-hal hangat di bawah permukaannya.

Dua gunung besar, yang membentang ratusan mil, terletak di tepi selatan wilayah berbentuk hati di permukaan Pluto. Pegunungan ini secara informal bernama Wright Mons dan Picard Mons, dan gunung ini memiliki kawah di puncaknya. Puncak ini mengingatkan akan puncak gunung berapi di Bumi yang disebut "gunung berapi perisai".

"Apa pun mereka, pasti mereka sangat aneh" - ', tapi saat ini, gunung berapi' adalah hipotesis yang ada saat ini, "kata White pada konferensi pers.

Lokasi dua gunung di Pluto yang kemungkinan gunung berapi es.

Meskipun fitur gunung ini sangat mirip dengan gunung berapi, peneliti New Horizons Jeff Moore, dari NASA Ames Research Field, mengatakan dalam sebuah sesi sebelumnya bahwa mereka belum siap untuk meyakinkan bahwa ada bukti untuk cryovolcanism di Pluto.

"Ini terlihat mencurigakan, dan kami ingin melihatnya dari dekat," kata Moore.


Para ilmuwan belum tahu apa yang bisa menghasilkan panas di dalam Pluto yang diperlukan untuk membuat sebuah gunung berapi di permukaan. Salah satu kemungkinan, juga dipresentasikan di konferensi ini, adalah bubur mantel amonia-air yang terletak di bawah permukaan. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa pascasarjana Alex Trowbridge dan profesor Jay Melosh, dari Purdue University di Indiana, menunjukkan bahwa saat material yang lebih dingin tenggelam melalui lapisan bawah permukaan, material panas mungkin naik, menyebabkan aktivitas geologi yang dapat mencakup cryovolcanism.

Yang Pertama Dari Jenis Mereka

Meskipun istilah "cryovolcanism" telah diterapkan pada objek lain di tata surya, White menekankan bahwa fitur pada Pluto sangat unik. Bulan beku Saturnus, Enceladus diketahui memuntahkan material dari kutub selatannya, tetapi sumber muntahan ini berasal dari celah di tanah, bukan fitur pegunungan. Cryovolcanism juga diduga ada di Titan, bulan Saturnus yang lain, White menunjukkan bahwa cryovolcanoes diidentifikasi di Titan oleh radar dan masih diperdebatkan. Sebaliknya, fitur di Pluto terlihat jelas dan sangat mirip dengan gunung berapi bumi.

Data MAVEN : Aurora Terjadi Dimana Saja Di Planet Mars

Pendeteksian cahaya ultraviolet dari aurora di Mars yang dideteksi di banyak wilayah di planet Mars

AstroNesia ~ Menurut data baru dari wahana NASA MAVEN, aurora dapat terjadi hampir di mana saja di Mars.

Para ilmuwan telah menemukan aktivitas aurora di sebagian besar planet merah, sementara di Bumi, aurora hanya terjadi di lintang yang lebih tinggi.

"Apa yang begitu mengejutkan tentang penemuan aurora ini adalah tidak ada lokasi khusus di Mars, aurora dapat terjadi di mana saja, dan mungkin dapat terlihat di mana-mana," kata pemimpin penulis studi Dr Nick Schneider dari Universitas Colorado.



Aurora terjadi ketika aliran partikel bermuatan yang dibawa oleh angin Matahari berbenturan dengan atmosfer planet, memberikan energi atom dan molekul di udara dan menyebabkan mereka bersinar. 

Garis medan magnet planet bertindak sebagai penyalur, itulah mengapa aurora di Bumi biasanya terbatas pada lintang yang lebih tinggi.

"Di Bumi Anda harus di tempat khusus [di lintang yang lebih tinggi], itulah satu-satunya tempat di mana energi dari interaksi surya dapat menyebabkan aurora," kata Dr Schneider.


"Kuncinya adalah Mars tidak memiliki pelindung magnetosfer."

Hanya ada lokasi yang terisolasi di Mars dengan sisa medan magnet dalam kerak yang dapat melindungi permukaannya dari partikel matahari yang menyerangnya, dan menurut Dr Schneider ini adalah satu-satunya tempat di mana aktivitas aurora Mars tidak terjadi.


"Tidak ada yang melindungi seluruh planet Mars dari partikel-partikel energik dan itulah mengapa aurora dapat terjadi secara luas di planet ini," kata Dr Schneider.

Sebelumnya, aurora terdeteksi di planet merah oleh wahana pengorbit Badan Antariksa Eropa Mars Express yang terbatas pada wilayah tertentu di belahan bumi selatan Mars.

"Apa yang baru di sini adalah aurora tersebar di wilayah yang luas," kata Dr Schneider.


Para peneliti mendeteksi aurora Mars menggunakan Imaging Ultraviolet Spectrograph pada wahana antariksa Mars Atmosphere and Volatile Evolution (MAVEN).

"Instrumen kami hanya melihat pada panjang gelombang cahaya ultraviolet, karena itu bagian dari spektrum yang memungkinkan untuk mengetahui gas apa saja yang hadir di sana",
kata Dr Schneider.

Mereka juga menemukan bahwa aurora ini terjadi serendah 60 kilometer dari permukaan Mars.


Temuan ini diterbitkan dalam Science journal.

NASA MAVEN Ungkap Angin Matahari Yang Mengupas Atmosfer Mars

Ilustrasi badai matahari memukul Mars dan pengupasan ion di atmosfer atasnya.

AstroNesia ~ Wahana antariksa NASA Mars Atmosphere and Volatile Evolution (MAVEN) mengungkapkan bahwa matahari telah melucuti atmosfer Mars.

Data baru dari MAVEN telah memungkinkan para peneliti untuk menentukan tingkat kehilangan gas atmosfer Mars saat ini ke ruang angkasa melalui pengupasan oleh angin matahari.




Tidak seperti Bumi, Mars tidak memiliki medan magnet untuk melindungi atmosfernya dari angin matahari. Temuan ini menunjukkan bahwa pengikisan atmosfer Mars 'meningkat secara signifikan selama badai matahari.


"Mars tampaknya telah memiliki atmosfer tebal yang cukup hangat untuk mendukung air cair di permukaannya, yang merupakan bahan utama bagi kehidupan seperti saat yang kita tahu," kata John Grunsfeld, astronot dan administrator di NASA Science Mission Directorate di Washington dalam sebuah pernyataan .

"Memahami apa yang terjadi pada atmosfer Mars akan menginformasikan pengetahuan kita tentang dinamika dan evolusi dari setiap atmosfer planet. Mempelajari apa yang dapat menyebabkan perubahan lingkungan planet yang bisa menjadi tuan rumah mikroba di permukaannya adalah salah satu yang penting untuk diketahui dan merupakan pertanyaan kunci yang sedang dibahas dalam perjalanan NASA ke Mars. "

Pengukuran MAVEN menunjukkan bahwa angin Matahari mengikis sekitar 100 gram atmosfer Mars setiap detik. "Seperti mencuri beberapa koin dari celengan setiap hari, membuat kerugian secara signifikan dari waktu ke waktu," kata Bruce Jakosky, peneliti utama MAVEN di University of Colorado, Boulder.

Angin Matahari adalah aliran partikel, terutama proton dan elektron, yang mengalir dari atmosfer matahari dengan kecepatan sekitar satu juta mil per jam. Medan magnet yang dibawa oleh angin matahari yang mengalir melewati Mars dapat menghasilkan medan listrik sebanyak turbin di Bumi dapat digunakan untuk menghasilkan listrik. Medan listrik ini mempercepat atom gas bermuatan listrik, yang disebut ion di atmosfer atas Mars 'dan melempar mereka ke ruang angkasa.

Misi MAVEN telah membantu para ilmuwan mengidentifikasi proses yang tampaknya telah memainkan peran kunci dalam transisi iklim Mars dari lingkungan awal, hangat dan basah yang mungkin telah mendukung kehidupan di permukaannya menjadi planet Mars yang dingin dan gersang seperti saat ini.

Visualisasi Berbagai Gambar Exoplanet

Visualisasi galeri exoplanet

AstroNesia ~ Desain grafis Slowakia, Martin Vargic telah menyatukan visualisasi lebih teliti yang menunjukkan lebih dari 500 exoplanet yang ditemukan oleh para astronom pada Oktober 2015. Seperti kepingan salju, itu menunjukkan bahwa tidak ada dua planet yang sama.

Ingat ini hanya gambar visualisasi atau ilustrasi berdasarkan data yang diperoleh.



Para astronom masih menemukan fakta bahwa exoplanet muncul dalam segala macam ukuran, orientasi, dan arsitektur fisik. Tata Surya kita memiliki keragaman ketika datang ke planet lokal, tapi jelas, pada skala intra-galaksi, keragaman ini benar-benar besar.

Misalnya, Kappa Andromedae b, planet gas raksasa yang 13 kali lebih masif dari Jupiter. Kemudian yang baru ditemukan Kepler 452-b, cukup mirip Bumi, tapi sekitar 60% lebih masif dari planet kita. Dan kemudian ada HD 149026b, yang memiliki suhu permukaan sekitar 3.700 derajat Fahrenheit (2.000 derajat Celsius).

Dalam poster baru Vargic ini, melakukan pekerjaan yang baik yang memperlihatkan keragaman antar planet ini. Lihat poster yang lebih besar disini : Poster Exoplanet

Mudah-mudahan, dengan tekeskop ruang angkasa generasi berikutnya seperti James Webb, kita akan mulai mendapatkan beberapa gambar exoplanet yang beresolusi lebih tinggi. Tapi mereka tidak akan pernah terlihat cukup baik seperti pada gambar visualisasi.

Cuaca Di Planet Ini Di Dominasi Awan Debu Panas Dan Hujan Besi Cair

Ilustrasi PSO J318.5-22

AstroNesia ~ Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa pola cuaca di dunia misterius di luar tata surya kita telah terungkap untuk pertama kalinya.

Lapisan awan yang terdiri dari debu panas dan tetesan besi cair, telah terdeteksi pada exoplanet yang ditemukan 75 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini bisa dibilang planet pengembara karena tidak memiliki bintang induk.

Temuan dari studi ini bisa meningkatkan kemampuan para ilmuwan untuk mengetahui apakah kondisi di planet jauh mampu mendukung kehidupan, kata tim astronom menyarankan.




Sebuah tim yang dipimpin oleh University of Edinburgh menggunakan teleskop di Chile untuk mempelajari sistem cuaca di dunia yang jauh - dikenal sebagai PSO J318.5-22 - yang diperkirakan berusia sekitar 20 juta tahun.

Peneliti menangkap ratusan gambar infra-merah dari objek ini karena ia sekali berotasi hanya 5 jam. Dengan membandingkan kecerahan PSO J318.5-22 dengan objek tetangga, tim menemukan bahwa objek ini memiliki beberapa lapisan awan tebal dan tipis. Ini menyebabkan perubahan pada kecerahan dunia ini seiring berotasi.

Objek ini memiliki ukuran mirip Jupiter, tetapi 8 kali lebih masif. Sementara suhu di dalam awan di PSO J318.5-22 melebihi 800 ° C.

Tim mampu secara akurat mengukur perubahan kecerahan pada PSO J318.5-22 karena objek ini tidak mengorbit bintang. Bintang seperti matahari kita memancarkan sejumlah besar cahaya, yang dapat mempersulit pengukuran kecerahan objek yang mengorbit mereka, kata para peneliti.

Tim berharap untuk mengadaptasi teknik ini sehingga mereka dapat mempelajari planet-planet yang mengorbit bintang. Teknik-teknik tersebut pada akhirnya dapat diterapkan untuk meneliti planet bermassa rendah yang dingin, yang lebih mungkin mampu mendukung kehidupan, kata para peneliti.

Penelitian ini diterbitkan dalam Astrophysical Journal.

Cassini Kirim Gambar Bukit Pasir Hidrokarbon Di Permukaan Titan

Tebaran bukit pasir hidrokarbon gelap di permukaan Titan

AstroNesia ~ Bulan terbesar Saturnus, Titan adalah dunia yang diselimuti kabut, dingin dan rumit yang lengkap dengan danau metana dan etana cair, atmosfernya kaya nitrogen dan bahkan memiliki bukit pasir hidrokarbon.

Lanskap Titan yang didominasi bukit pasir ini mencakup area seukuran Amerika Serikat. Gambar yang diambil pada bulan Juli 2015 dengan pesawat ruang angkasa Cassini mengungkapkan dua daerah gundukan, yang disebut Fensal di utara dan Aztlan di selatan, kata badan antariksa.



Cassini menangkap gambar ini dari jarak 450.000 mil jauhnya.

"Kamera Cassini ini sering memantau permukaan Titan (melintas pada jarak 3.200 mil atau 5.150 kilometer) untuk mencari perubahan dalam fitur-fiturnya selama misi," kata NASA dalam sebuah pernyataan.


"Setiap perubahan akan membantu para ilmuwan lebih memahami fenomena yang berbeda seperti angin dan pembentukan gundukan di Titan."

Titan adalah dunia seperti dunia yang berasal dari novel fiksi ilmiah.


Menurut NASA, Titan mungkin sebenarnya memiliki aktivitas tektonik yang terjadi di bawah permukaannya seperti lempeng benua di Bumi.


NASA juga menemukan bahwa Titan juga memiliki awan di atmosfernya sehingga hujan metana tercurah ke permukaannya. (Di Bumi, metana biasanya berbentuk gas atau dalam bentuk beku di bawah permukaan laut, tetapi Titan begitu dingin sehingga senyawa kimia ini dapat benar-benar menjadi cairan disana.)

Wahana antariksa Huygens yang mendarat di Titan pada tahun 2005 setelah dibawa ke Saturnus oleh Cassini, menemukan "daerah yang tampaknya menjadi dataran banjir, lengkap dengan batu-batuan bulat sekeras batu air es," kata NASA mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Titan adalah objek satu-satunya di Tata Surya, selain dari bumi, dikenal memiliki danau dan laut di permukaannya.

Cassini akan mendapatkan tampilan Titan yang relatif dekat Titan pada 13 November ketika terbang lintas pada jarak hanya 7.406 mil dari permukaan.