Tampilkan postingan dengan label Edukasi-Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi-Budaya. Tampilkan semua postingan

Air Kaca - Wisata Sejarah Pulau Morotai

Air Kaca - Wisata Sejarah Pulau Morotai

Air Kaca pada masa Perang Dunia II merupakan sumber mata air yang vital bagi pasukan AS. Mata air ini juga sering digunakan Jenderal Mac Arthur untuk mandi dan konon ketika Mac Arthur mandi di tempat ini, dia dapat melihat ramalan dalam berperang nanti. Wisata Air Kaca adalah salah satu objek wisata yang dapat Anda temukan di Kab. Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara.

Air Kaca sebenarnya merupakan sungai bawah tanah yang muncul di permukaan tanah. Disebut Air Kaca karena mata airnya sangat bening, bila sebuah jarum dijatuhkan maka kita bisa melihat jarum tersebut di dalam air. Namun, saat ini airnya tidak sejernih dulu. Air Kaca ini biasanya dimanfaatkan sebagai sumber air minum, tempat mandi dan beristirahat Jenderal Mac Arthur beserta perwira lainnya sehingga disterilkan oleh tentara sekutu dari jangkauan masyarakat setempat.

Sumber Air Kaca mengalir ke pantai Transmeter yang jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi Air Kaca. Sebagian besar warga Pulau Morotai secara turun-menurun menyakini Air Kaca ada penunggunya yang gaib. Warga mengatakan ada satu wanita dan satu laki-lagi, namun mereka tidak mengganggu. Air Kaca juga dipercayai membawa berkah, warga percaya jika ada yang tidak punya keturunan bisa mengambil airnya untuk diminum. Selain itu, dapat mengobati berbagai penyakit tergantung bagaimana Anda punya niat untuk memintanya. Jika ingin yang lebih besar maka harus bersemedi terlebih dahulu. Itulah mistis Air Kaca yang masih dipercaya hingga saat ini.

Air Kaca berada di Wamama, sangat dekat dengan pusat Kota Daruba, dengan perjalanan sekitar 5 menit anda sudah bisa sampai ke lokasi wisata dengan menggunakan kendaraan roda dua. Sebuah papan dengan tulisan objek wisata “Air Kaca” akan menjadi petunjuk bahwa Anda telah tiba di lokasi. Dari papan tulisan tersebut ke lokasi Air Kaca hanya sekitar 50 meter. Wisata Air Kaca sangat dekat dengan Wisata sejarah lainnya di Pulau Morotai yakni Landasan Pitu yang jaraknya hanya 1 km.

Monumen Teruo Nakamura - Wisata Sejarah Pulau Morotai

Monumen Teruo Nakamura - Wisata Sejarah Pulau Morotai

Teuro Nakamura adalah salah satu sejarah yang sangat menarik di Pulau Morotai, provinsi Maluku Utara. Nakamura adalah prajurit Jepang yang paling terakhir dan menyerah pada akhir tahun 1974. Oleh karena itu Pemerintah Daerah Kabupaten Pulau Morotai mendirikan Monumen Teruo Nakamura untuk mengenang sejarah dimana Pulau Morotai dulu memiliki peran strategis sebagai salah satu basis pada Perang Dunia II.

Cerita ini dimulai dari pasukan Jepang yang menguasai Pulau Morotai dengan kekuatan sebanyak satu batalyon atau sekitar 1000 orang personel. Namun, Pasukan Sekutu yang terdiri dari Amerika Serikat dan Australia mengirimkan sembilan divisi atau sekitar 90 ribu pasukan untuk merebut pulau itu dari Jepang pada 1944. Pasukan Jepang kewalahan dan beberapa berhasil lari bersembunyi, salah satunya adalah Teuro Nakamura. Pada umumnya, prajurit Jepang yang bersembunyi itu tak mau menyerah oleh pihak sekutu. 

Nakamura berasal dari penduduk asli Taiwan dan saat itu Taiwan menjadi koloni Jepang. Lahir pada tahun 1919, ia terkena wajib militer dan dimasukkan ke dalam sebuah Unit Sukarela Takasago dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang pada bulan November 1943. Ia ditempatkan di Pulau Morotai di Indonesia tak lama sebelum pulau tersebut ditaklukkan oleh Sekutu pada bulan September 1944 dalam Pertempuran Morotai. Ia dinyatakan tewas pada bulan Maret 1945. 

Monumen Teruo Nakamura - Wisata Sejarah Pulau Morotai

Sejarah ditemukannya Prajurit Teuro Nakamura
Ada seorang warga Desa Pilowo yang bernama Baicoli, bersahabat dengan Nakamura selama puluhan tahun. Baicoli bertemu Nakamura saat sedang berburu babi hutan. Dari pertemuan itu, mereka bersahabat. Baicoli sering mengunjungi Nakamura di tempat persembunyiannya untuk membawakan bahan-bahan makanan yang dibutuhkan seperti gula, garam, atau teh. Hingga pada akhirnya Baicoli merasa akan meninggal pada waktu itu, dia memberikan wasiatnya kepada anaknya, Luther Goge, untuk melanjutkan persahabatan dengan Nakamura dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkannya. Luther kemudian dikenalkan oleh ayahnya dan kemudian melanjutkan persahabatannya itu.

Namun, Luther pada tahun 1974, mulai merasakan hidupnya tak akan lama lagi. Ia mulai khawatir dengan keadaan Nakamura. Luther tak memiliki anak yang akan melanjutkan hubungannya dengan Nakamura. Pada akhirnya ia melaporkan tentang persahabatannya itu kepada Kapolsek Pulau Morotai, Kapten Lawalata tentang adanya prajurit Jepang yang bersembunyi di hutan.

Pada awalnya, Kapten Lawalata selaku kapolsek belum meyakini laporan dari Luther Goge itu. Sehingga, ia melaporkan hal tersebut kepada Komandan Pangkalan Udara TNI AU di Pulau Morotai, Kapten Supardi. Kapten Supardi akhirnya memutuskan untuk menjemput Nakamura. Sebuah tim penjemput beranggotakan sebanyak 20 orang disiapkan dan Supardi memimpin penjemputan itu.

Pada tanggal 18 Desember 1974 tim berangkat dari pusat kota Pulau Morotai ke kawasan hutan di Desa Pilowo, tempat persembunyian Nakamura. Saat menjelang malam, mereka pun mendirikan tenda dan bermalam. Ada seorang anggota dari tim tersebut bernama Sersan Mayor Hanz Anthony yang fasih berbahasa Jepang. Ia kemudian merancang skenario penangkapan Nakamura. Ia mengajarkan lagu Kimigayo, lagu kebangsaan Jepang kepada seluruh tim. Tim penjemput pun menghapalkannya. Selain lagu, tim juga membawa foto Presiden Soeharto beserta bendera merah putih dan foto Perdana Menteri Jepang pada waktu itu Kakuei Tanaka beserta bendera matahari Jepang. Skenarionya adalah, saat Nakamura muncul, maka tim penjemput menyanyikan lagu kebangsaan Jepang dan mengibarkan bendera Jepang dan merah putih serta menunjukkan foto Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Kakuei Tanaka.

Pada tanggal 19 Desember 1974 pagi hari, tim penjemput kembali bergerak mencari Nakamura. Setelah beberapa saat berjalan, tim menemukan gubuk persembunyian Nakamura. Pada waktu ditemukan, Nakamura sedang tidak ada di tempat. Tim penjemput pun kemudian bersembunyi. Saat Nakamura kembali, tim kemudian mengepung gubuk itu. Nakamura terkejut dan raut wajahnya terlihat sangat tegang dan berusaha masuk ke dalam gubuk. Sesuai sekenario, tim menyanyikan lagu Kimigayo dan mengibarkan foto serta bendera. Mendengar itu, Nakamura langsung berdiri tegak dan dalam keadaan siap. Saat itulah, Sersan Mayor Hanz Anthony menyergap Nakamura. Tim kemudian menodongkan senjata ke arah Nakamura dan menyuruhnya angkat tangan. Pada saat itu juga Nakamura menyerah kepada Pasukan TNI AU. Sersan Mayor Hanz Anthony kemudian berbicara kepada Nakamura dalam bahasa Jepang. Hanz menginformasikan bahwa perang telah usai sejak 29 tahun lalu. Jepang, sebagai negara yang dibela Nakamura juga kalah dalam perang tersebut oleh sekutu. Hanz juga menginformasikan bahwa Pulau Morotai saat ini adalah daerah merdeka dan bergabung dengan negara yang bernama Indonesia. Hanz pun menunjukkan foto Presiden Soeharto sebagai kepala negara Indonesai saat ini. Tak lupa, Hanz juga menunjukkan foto Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka sebagai kepala pemerintahan Jepang.

Kehidupan Teuro Nakamura selama 30 tahun bersembunyi di hutan
Kondisi Nakamura saat ditemukan hanya memakai baju yang terbuat dari karung goni. Tubuhnya tinggi besar dan terawat. Kulitnya putih. Tim kemudian masuk ke dalam gubuk Nakamura. Gubuk itu hanya seluas 2 x 2 meter. Terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Di dalam gubuk, terdapat tumpukan kayu yang sudah melengkung. Kayu itu melengkung karena dijadikan tempat tidur Nakamura. Selain itu, berdasarkan cerita Serma Hanz Anthony yang bisa berbicara dengan Nakamura dalam bahasa Jepang, Nakamura menggunakan itu untuk membakar dirinya sendiri, jika suatu saat ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Di langit-langit gubuknya, ditemukan satu buah senjata yang disimpan Nakamura. Senjata itu ia rawat sejak masa perang, 30 tahun sebelumnya. Di lantai yang terbuat dari tanah itu, ditemukan 14 peluru aktif. Di dalam rumahnya juga terdapat satu botol besar yang berisi minyak babi. Digunakan Nakamura untuk merawat senjatanya dan untuk bumbu makanan. Di kompleks gubuk itu, Nakamura menanam berbagai macam tanaman. Ia menanam jenis umbi-umbian seperti ubi dan singkong. Ia membangun pagar terbuat dari kayu untuk mengelilingi gubug dan pekarangannya itu.

Monumen Teruo Nakamura - Wisata Sejarah Pulau Morotai

Setelah ditangkap, Nakamura diberikan baju seragam oleh TNI AU. Tanpa diikat atau diborgol, Nakamura dibawa oleh tim ke pangkalan TNI AU melalui jalur laut menggunakan speedboatNakamura yang sudah 30 tahun bersembunyi tidak berinteraksi dengan peradaban, terlihat bingung saat melihat keramaian. Ia kemudian dibawa ke pangkalan TNI AU dan dirawat di sana untuk dicek kesehatannya. Menurut keterangan dokter keadaan Nakamura baik-baik saja. Sersan Mayor Hanz Anthony menjelaskan Nakamura bersembunyi di dalam hutan karena menyangka Pulau Morotai masih dikuasai oleh Pasukan Sekutu. Apalagi, di Pulau Morotai terdapat Pangkalan TNI AU, sering dikunjungi oleh pesawat Hercules. Nakamura menyangka itu adalah pesawat Pasukan Sekutu. Sehingga saat ada pesawat Hercules TNI AU, Nakamura bersembunyi dan merunduk di hutan.

Pada akhirnya Nakamura dijemput oleh Kepala Staf Angkatan Udara waktu itu, Marsekal Saleh Basarah dari Jakarta dengan pesawat Hercules. Setelah Nakamura di bawa ke Jakarta, ia diserahkan ke Kedutaan Besar Jepang. Pada awalnya, Nakamura ingin dikembalikan ke Jepang. Namun, ia terhalang masalah administrasi. Karena, ternyata diketahui bahwa Nakamura hanya seorang pasukan sukarela atau wajib militer pasukan Jepang dari Taiwan. Nakamura akhirnya dibawa ke Taiwan. 

Pulau Ngelengele - Wisata Pulau Morotai

Pulau Ngelengele - Wisata Pulau Morotai

Pulau Ngelengele adalah pulau menarik lainnya yang dapat Anda kunjungi di kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Anda bisa melihat kehidupan nelayan melakukan pembudidayaan ikan dan mutiara. Pulau Ngelengele terbagi dua yaitu Pulau Ngelengele Besar dan Pulau Ngelengele Kecil.

Di Pulau Ngelengele Anda dapat melihat barisan tong yang terikat kuat, terapung dengan teratur di bibir pantai yang merupakan tempat untuk budidaya ikan kerapu. Bagi Anda yang tertarik dengan pengetahuan di dunia perikanan, tentunya tempat ini layak untuk dikunjungi karena Anda bisa melihat bagaimana caranya nelayan disini membudidayakan ikan tersebut, Anda dapat menanyakan mereka mengenai cara pemilihan bibit ikan atau pemilahan makanan untuk ikan.

Pulau Ngelengele - Wisata Pulau Morotai
Sumber: Foto McBill Abdul Aziz
Selain itu, Anda dapat melihat budidaya mutiara di tempat ini. Hasil budidaya tiram mutiara yang dikelola oleh investor sudah diekspor ke berbagai negara. Mutiara Ngelengele juga dimanfaatkan masyarakat setempat untuk dijadikan berbagai macam aksesoris yang unik dan mewah seperti gelang, cincin, atau rangkaian kalung mutiara. Tentunya Anda dapat membeli disini untuk dijadikan oleh-oleh bagi orang yang Anda kasihi. 

Selain itu, Ngelengele juga memiliki cemilan favorit yakni buah Amo atau dikenal buah Sukun di Jawa. Masyarakat setempat biasanya mengolah buah ini menjadi berbagai macam kudapan. Amo dapat digoreng dalam minyak panas, dimasak, atau diolah menjadi kuah bersantan. Selain itu dapat dinikmati menjadi keripik dengan olesan gula nan lezat.

Pulau Ngelengele juga memiliki hamparan pasir pantai putih yang halus dan memiliki landscape yang indah. Sangat cocok Anda menjelajahi keindahan pulau ini. Pulau Ngelengele dapat diakses dengan menyewa speedboat dari Kota Daruba, Pulau Morotai. Lama perjalanannya ke Pulau Ngelengele besar adalah sekitar 45 menit, sedangkan ke Pulau Ngelengele kecil adalah sekitar 30 menit.

Pulau Sumsum - Wisata Pulau Morotai

Pulau Sumsum - Wisata Pulau Morotai
Pulau Sumsum yang dikenal juga sebagai Pulau Zum-zum memiliki nilai sejarah yang tinggi pada masa Perang Dunia II yakni menjadi markas dan tempat peristirahatan Jenderal Douglas Mac. Arthur yang merupakan pemimpin pasukan sekutu untuk kawasan Asia Pasifik sehingga Pulau Sumsum sering disebut juga sebagai "Mac. Arthur Island". Anda juga akan takjub dengan keindahan Pulau Sumsum yang dipenuhi pantai pasir putih berkerikil dan air laut disini sejernih kristal. Alamnya yang masih asri membuat Anda tergoda untuk menjelajahi pulau kecil ini. Pulau Sumsum adalah satu wisata kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara.

Pulau Sumsum - Wisata Pulau Morotai
Sumber: Foto Abdul Aziz
Pulau Sumsum sangat dekat dari Daruba yang merupakan Ibukota Kab. Pulau Morotai, jaraknya hanya sekitar 8 km dengan menggunakan speed boat, lama perjalanannya sekitar 20 menit. Hal-hal yang dapat Anda temukan di Pulau Sumsum sebagai berikut:

1. Di pulau ini terdapat puing-puing rumah bekas tempat tinggal Mac. Arthur. 
2. Anda dapat temukan gua pusat komando dan tempat pendaratan tank amfibi. Gua tersebut juga merupakan tempat persembunyian Jenderal Mac Arthur. 
3. Di bibir pantai Sumsum masih dapat ditemui bekas helipad.

Pulau Sumsum - Wisata Pulau Morotai

4. Monumen Mac Arthur untuk mengenang jenderal tersebut saat memberikan perintah untuk mengebom Hiroshima dan Nagasaki serta sekaligus mengingat tempat ini sebagai tempat persembunyian Amerika saat Perang Dunia II ada di pulau ini.

Pulau Sumsum - Wisata Pulau Morotai


Benteng De Verwacthing - Wisata Sejarah Kepulauan Sula

Benteng De Verwacthing - Wisata Sejarah Kepulauan Sula

Benteng De Verwacthing adalah salah satu wisata sejarah yang patut Anda kunjungi saat Anda berada di Kepulauan Sula. Benteng ini berada di kelurahan Sanana, kecamatan Sanana Utara, Pulau Sulabesi, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Benteng ini berada tepat di depan pelabuhan Sanana yang berada di pusat kota. 

Benteng De Verwacthing memiliki luas 2.750 meter persegi dengan 4 bastion dan 2 menara pengintai. Tinggi dinding benteng kurang lebih 4 meter. Terdapat dua bangunan penunjang yang ada di dalam benteng tersebut yang saat ini digunakan sebagai Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Sula. Kondisi benteng saat ini sudah direnovasi dan hasilnya seperti yang dapat Anda lihat di foto dibawah ini. 

Benteng De Verwacthing - Wisata Sejarah Kepulauan Sula
Sumber: Foto Kekunaan
Sejarah
Pada tahun 1623, warga Ternate diperkirakan membangun satu benteng kecil yang dikenal dengan nama Het Klaverblad. Namun, baru pada tahun 1688 ada catatan sejarah tentang benteng Het Klaverblad yang letaknya di Kepulauan Sulu, tepatnya di Pulau Sanana.

Kemudian pada 24 Desember 1736, yaitu masa pemerintahan Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin (1714-1751), benteng kecil Het Klaverblad diperbaharui dan kemudian diberi nama De Verwachting. Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin – putra tertua Rotterdam dari istri keempatnya, Sayira – adalah Sultan Ternate ke-14. Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin lahir di Ternate pada 1680 dan lebih dikenal dengan nama Raja Laut, yang diberikan ayahnya. Ia juga dikenal dengan nama Kaicil Sehe.

Pemugaran benteng tersebut berada di bawah pengawasan seorang opsir VOC, Victor Moll. Pemugaran ini memanfaatkan tenaga orang-orang Ternate, yang kemudian mereka memahat dinding benteng tersebut dengan hiasan-hiasan bercirikan khas Ternate.

Tulisan-tulisan pada gerbang dan dinding benteng juga dalam bahasa Melayu. Pada tahun 1790-an, catatan sejarah VOC di akhir abad ke-18 menyebut benteng ini sebagai benteng Alting, menurut nama seorang wali VOC yang memegang tampuk pimpinan antara 1780-1797.

Meriam dan Bunker Jepang - Wisata Sejarah Halmahera Timur

Meriam dan Bunker Jepang - Wisata Sejarah Halmahera Timur

Meriam dan Bunker peninggalan Jepang pada saat Perang Dunia II dapat Anda temukan di Desa Hatetabako, Kecamatan Wasile Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara. Benda bersejarah tersebut sangat menarik untuk dikunjungi.

Anda dapat melihat moncong meriam yang dengan sengaja telah dirusaki oleh pasukan sekutu dengan cara meledakkan granat di moncong meriam. Kawasan ini di bombardir oleh pasukan sekutu di bulan November hingga Desember 1944.

Bunker Jepang dapat Anda temukan sekitar 50 meter dari pesisir pantai Desa Hatetabako. Bangunan ini memiliki struktur beton dan kerangka besi terdapat empat pintu dan dua ruangan, masing-masing ruangannya dihubungkan dengan lorong-lorong panjang. Bangunan ini dibangun oleh pasukan Jepang pada tahun 1943 untuk menghalau serangan udara dan laut pasukan sekutu yang bermarkas di pulau Morotai. Namun pada tahun 1944 pasukan Jepang dikalahkan oleh sekutu pada perang Pasifik. 

Meriam dan Bunker Jepang - Wisata Sejarah Halmahera Timur
Sumber: Foto Tutu Maluleo

Anda juga dapat menemukan bunker yang terdiri dari 20 pintu yang menjadi tempat persembunyian tentara Jepang. Bunker tersebut terbuat dari tanah liat dan dipahat dengan sempurna. Dari satu pintu ke pintu lain saling berhubungan.

Meriam dan Bunker Jepang - Wisata Sejarah Halmahera Timur

Selain melihat benda bersejarah, tentunya Anda bisa bersantai di tepi pantai tersebut yang merupakan hamparan pasir putih halus dengan laut yang jernih menjadi tempat yang sangat cocok untuk menikmati pemandangan yang indah dan bermain air. Desa ini jaraknya sekitar 30 km dari Desa Subaim di Kecamatan Wasile. Kondisi jalan belum aspal namun masih bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat, waktu kunjungan yang terbaik adalah pada saat musim kemarau.

Pulau Makian - Wisata Halmahera Selatan

Pulau Makian - Wisata Halmahera Selatan

Pulau Makian termasuk pulau kecil yang lebarnya sekitar 10 km. Pulau ini terdapat Gunung Api Kie Besi dengan ketinggian 1.357 meter di atas laut dengan lebar kawah 1.5 km yang membuat Pulau Makian terlihat indah dan menjadi hal yang menarik bagi yang suka mendaki gunung. Dahulu pulau ini merupakan kediaman Sultan Bacan pertama kali sebelum pindah ke Pulau Lelei dan akhirnya ke Pulau Bacan. Pulau Makian berada di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Pulau Makian adalah penghasil kenari sehingga sering disebut juga "Pulau Kenari". Masyarakat biasanya memanen pohon kenari antara bulan Maret hingga Agustus. Kacang kenari disini memiliki ukuran empat kali lebih besar dari ukuran lazimnya dan merupakan salah satu kenari terbaik di Indonesia. Kenari sering dijadikan kue, halua kenari, bagea kenari, minyak, wewangian, dsb. Kacang kenari sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung, otak, dan berbagai manfaat lainnya. Pulau Makian juga banyak terdapat Pohon Kelapa sangat cocok untuk melepas dahaga setelah lelah mengelilingi Pulau Makian yang indah.

Pulau Makian - Wisata Halmahera Selatan
Sumber: Foto Ullokan
Pulau Makian juga terdapat Benteng Mauritius Ngofakiaha, namun kondisinya kurang terawat dan perlu dibenah kembali sehingga sejarah tersebut tidak hilang. Benteng Mauritius dibangun oleh Gubernur Jenderal Pieter Both di pesisir pantai pulau Makian dimana semula benteng ini bernama Gnofficquia atau Noseca. Sejak tanggal 22 Desember 1659, bersama dengan benteng Tafasoho, benteng ini diturunkan tingkat kepentingannya dan ketika itu benteng ini hanya sebuah bangunan persenjataan. Sementara itu, bangunan pertahanan yang berbentuk setengah lingkaran, dan mengelilingi rumah atau gudang baru di pesisir pantai justru diperkuat, yang kemudian diberi nama Benteng Zeeburg. Di dalam benteng ini, Pieter Both mengadakan perundingan dengan Sangaji Makian dan Sangaji Limatau yang mewakili Kesultanan Ternate, dan berhasil memperoleh sejumlah kesepakatan yang antara lain bahwa orang-orang Islam dan Kristen mempunyai kebebasan yang sama dalam melaksanakan ajaran agama mereka masing-masing.

Pulau Makian - Wisata Halmahera Selatan
Benteng Mauritius Ngofakiaha (Sumber: Foto East Indonesia)

Perjalanan ke Pulau Makian dari Kota Ternate adalah sekitar 1.5 jam dengan speedboat.

Benteng Barneveld - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Benteng Barneveld - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Benteng Barneveld adalah peninggalan Portugis dan Belanda yang berada di Jalan Benteng Barneveld, Amasing Kota. Dari atas benteng ini, Anda dapat melihat pantai dan perkampungan penduduk serta keindahan panorama lainnya. Selain itu, di benteng ini kita juga bisa melihat meriam berusia ratusan tahun. Benteng Barneveld adalah salah satu wisata sejarah di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara

Sejarah

Pada tahun 1558 bangsa Portugis datang dan bermukim di Labuha, mereka mendirikan sebuah benteng kecil. Tidak lama benteng ini dibangun, bangsa Spanyol datang berdagang di benteng ini yang kemudian harinya benteng ini justru direbut oleh Spanyol dari Portugis. Tahun 1609 Laksamana Muda Simon Hoen bersama dengan Sultan Ternate menuntut Spanyol agar benteng ini diserahkan kepada mereka. Benteng ini pun segera diserahkan oleh Spanyol. Kemudian benteng ini direnovasi dan diperkuat atas gagasan Hoen, Louis Schot dan Jan Dirkjzoon. Empat bastion kemudian dibangun dan benteng ini dinamai dengan nama Barnaveld.

Ketika dikuasai Belanda pada tahun 1609, benteng ini dipugar dengan kapur dan batu. Di tengah-tengah benteng dibangun sebuah rumah yang kokoh dengan atap dari rumput kering dan ruangan bawah tanah dengan dinding setebal satu kaki. Di sekitar benteng ditemukan batu prasasti besar dengan tulisan Latin dan di bagian kanan batu prasasti tersebut terdapat tanda keluarga Pieter Both, Gubernur Jenderal pertama VOC. Benteng berbentuk segi empat dilengkapi dengan tembok pertahanan yang rendah. Pada tembok pertahanan ini ditempatkan masing-masing sebuah bastion lengkap dengan meriam. Pintu gerbang utama dibangun berbentuk melengkung, menghadap ke arah Sungai Amasing yang konon menjadi pintu masuk ke Teluk Labuha yang menghadap ke Selat Bacan.

Benteng Barneveld - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)
Fort Oldebarneveld te Batjan, Molukken
Benteng ini pernah diperluas dan dilengkapi dengan sebuah sumur dan sebuah tangga dari batu. Kemudian di dalamnya terdapat bangunan-bangunan kolonial lain sebagai pendukung aktivitas dalam benteng tersebut.

Pada waktu ditinggalkan oleh Belanda, benteng ini tidak terurus dan sempat diselimuti oleh semak belukar serta beberapa pohon beringin besar. Namun, saat ini pemerintah daerah setempat telah menata kembali Benteng ini dengan baik.

Mesjid Sultan Bacan - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Mesjid Sultan Bacan - Wisata Sejarah Halmahera Selatan

Mesjid Sultan Bacan juga merupakan peninggalan sejarah yang berdekatan dengan keraton Sultan Bacan. Mesjid ini dibangun pada tahun 1901 yang dirancang oleh arsitek Jerman, Hoennig von Hendrik pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Sadek. Di belakang mesjid terdapat mata air suci yang dipercaya berkhasiat bagi kesehatan menjadikan daya tarik bagi Anda yang berkunjung di tempat ini. Mesjid Sultan Bacan merupakan salah satu wisata sejarah di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Mesjid ini berdekatan dengan Keraton Sultan Bacan, yakni sekitar 100m yang berada di Amasing Kota, Kecamatan Bacan. 

Mesjid ini berdiri di atas lahan seluas 6.020 m². Pada kubah limas paling atas terdapat kaligrafi di setiap sisinya. Mesjid ini memiliki 17 pintu masuk. Pada salah satu terasnya, terdapat sebuah bedug bercat hijau yang memiliki diameter 1 m dengan panjang 1,5 m, sedangkan pada bagian belakang masjid terdapat kompleks pemakaman kuno para ulama dari Malaka, keluarga serta kerabat dari Kesultanan Bacan. Masjid Kesultanan Bacan ini tidak dikelilingi pagar, akan tetapi dekat masjid dari tiga arah jalan masuk ke lingkungan masjid tersebut terdapat pintu gapura beratap gua susun sebagai gerbang menuju lingkungan masjid tersebut.


Mesjid Sultan Bacan - Wisata Sejarah Halmahera Selatan
Sumber: Foto Lensa Lipu
Pada jaman dahulu, mesjid ini tidak hanya digunakan untuk tempat ibadah, namun aktivitas roda pemerintahan juga di mesjid ini. Sultan dan para Ketua Adat biasanya menggelar pertemuan di teras mesjid untuk membahas masalah Kenegaraan.

Keraton Sultan Bacan - Wisata Sejarah Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Keraton Sultan Bacan - Wisata Sejarah Halmahera Selatan

Keraton Sultan Bacan adalah salah satu Wisata Sejarah di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Keraton ini beratap hijau yang khas kolonial menjadi bangunan terakhir yang ditinggali oleh Sultan Bacan. Salah satu alasan yang menarik wisatawan untuk mengunjungi keraton ini adalah untuk melihat benda bersejarah. 

Jika Anda beruntung, maka Anda memiliki kesempatan untuk melihat mahkota Sultan Bacan yang disebut Lakare. Lakare terbuat dari bahan Kain Beludru yang tidak pernah usang, lakare tersebut juga diperindah batu-batu mulia yang asli. Lakare, payung kebesaran dan keris yang bisa Anda lihat saat Sultan Bacan berada di kediamannya. Keraton Sultan Bacan berada di Jalan Oesman Syah, kelurahan Amasing Kota, kecamatan Bacan. 

Sejarah

Menurut Hikayat Bacan, yang dipublikasikan pada tahun 1923 oleh W. Ph. Coolhaas dalam Tijdschrift van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap (jilid LXIII, penerbitan kedua), disebutkan bahwa pada zaman dahulu, pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan menyatu dalam satu semenanjung, yang dinamakan Tanah Gapi. Kemudian datanglah seorang saudagar sekaligus pendakwah dari Jazirah Arab yang bernama Jafar Sadek ke Tanah Gapi. Jafar Sadek mempunyai empat orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan. Ketika anak-anaknya telah menginjak dewasa, Jafar Sadek berdoa kepada Allah SWT agar anak-anaknya kelak dijadikan raja di tempat yang berlainan, dan setelah itu terdengar guntur, kilat, hujan dan angin ribut di malam yang gelap gulita. Akibatnya, Tanah Gapi terpecah menjadi pulau-pulau. Anak lelaki pertama, Buka, kemudian bertolak ke Makian dan menjadi cikal bakal Kerajaan Bacan. Anak lelaki kedua, Darajat, bertolak ke Moti dan menjadi cikal bakal Kerajaan Jailolo. Anak lelaki ketiga, Sahajat, pergi ke Tidore dan menjadi cikal bakal Kerajaan Tidore. Anak lelaki keempat, Mashur Malamo, berlayar ke Ternate dan menjadi cikal bakal Kerajaan Ternate, sedangkan keempat anak perempuannya pergi ke Banggai dan bermukim di sana. Kesultanan Bacan merupakan salah satu dari empat Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku) yang ada di Maluku Utara.

Kedudukan awal Kerajaan Bacan bermula di Makian Timur, kemudian dipindahkan ke Kasiruta karena ancaman gunung berapi Kie Besi. Kebanyakan rakyat Bacan adalah orang Makian yang ikut dalam evakuasi bersama rajanya. Diperkirakan, Kerajaan Bacan didirikan pada tahun 1322. 

Raja pertama Bacan adalah Said Muhammad Bakir, atau Said Husin, yang berkuasa di Gunung Makian dengan gelar Maharaja Yang Bertahta Kerajaan Moloku Astana Bacan, Negeri Komala Besi Limau Dolik. Raja pertama ini berkuasa selama 10 tahun, dan meninggal di Makian. Pada 1343, bertahta di Kerajaan Bacan Kolano Sida Hasan. Dengan bekerja sama dengan Tidore, Sida Hasan berhasil merebut kembali Pulau Makian dan beberapa desa di sekitar Pulau Bacan dari tangan Raja Ternate, Tulu Malamo.

Sida Hasan naik tahta menggantikan ayahnya Muhammad Hasan pada tahun 1343. Pada masa Sida Hasan inilah terjadi evakuasi ke Bacan. Orang-orang Makian yang dievakuasi ke Bacan menempati kawasan Dolik, Talimau dan Imbu-imbu. Raja yang berkuasa pada tahun 1522 adalah Zainal Abidin. 

Bacan, dalam bahasa setempat artinya "membaca" memiiliki makna "usaha sadar seseorang untuk memasukkan sesuatu ke dalam otaknya untuk menjadi pengetahuan". Kesultanan Bacan memiliki peranan penting pada saat itu sebagai pemasok bahan-bahan pangan untuk seluruh wilayah Maluku Utara. Pada masa kejayaannya dulu, wilayah kekuasaan Kesultanan Bacan tergolong cukup luas, yaitu dari sebagian daerah di Sulawesi bagian utara, Filipina bagian selatan hingga ke wilayah Papua sebelah barat. Tidak hanya itu, Pulau Bacan yang menjadi pusat Kesultanan Bacan yang memiliki kekayaan hasil alam bahkan diminati dunia internasional pada waktu itu berupa rempah-rempah, seperti cengkeh dan pala. 


Keraton Sultan Bacan - Wisata Sejarah Halmahera Selatan
Foto Istana Sultan Bacan (tahun 1924)
Pengaruh bangsa Eropa pertama di Pulau Bacan diawali dengan kedatangan bangsa Portugis untuk mencari rempah-rempah yang menjadi komoditas dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi di pasar Eropa waktu itu. Bermula dari inilah akhirnya Pulau Bacan secara silih berganti menjadi koloni sejumlah negara dari Eropa, seperti Portugis, Spanyol, dan terakhir Belanda. Perebutan monopoli akan rempah-rempah tersebut, pada tahun 1889 sistem monarki Kesultanan Bacan diganti dengan sistem ke pemerintahan di bawah kontrol Hindia Belanda.

Sumber: Kekunaan

Telaga Biru - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)


Telaga Biru - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)

Telaga Biru berada di Desa Mamuya Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Penduduk setempat menamai tempat ini Telaga Biru oleh karena airnya yang jernih dan berwarna kebiruan. 

Asal Usul Telaga Biru

Cerita ini bermula di Dusun Lisawa, di tengah ketenangan hidup dan jumlah penduduk yang masih jarang, penduduk Lisawa tersentak gempar dengan ditemukannya air yang tiba-tiba keluar dari antara bebatuan hasil pembekuan lahar panas. Air yang tergenang itu kemudian membentuk sebuah telaga.

Airnya bening kebiruan dan berada di bawah rimbunnya pohon beringin. Kejadian ini membuat bingung penduduk. Mereka bertanya-tanya dari manakah asal air itu? Apakah ini berkat ataukah pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Berita tentang terbentuknya telaga pun tersiar dengan cepat. Apalagi di daerah itu tergolong sulit air. Berbagai cara dilakukan untuk mengungkap rasa penasaran penduduk. Upacara adat digelar untuk menguak misteri timbulnya telaga kecil itu. Penelusuran lewat ritual adat berupa pemanggilan terhadap roh-roh leluhur sampai kepada penyembahan Jou Giki Moi atau Jou maduhutu (Allah yang Esa atau Allah Sang Pencipta) pun dilakukan.

Acara ritual adat menghasilkan jawaban “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uhi imadadi ake majobubu” (Timbul dari akibat patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air).

Dolodolo (kentongan) pun dibunyikan sebagai isyarat agar semua penduduk dusun Lisawa berkumpul. Mereka bergegas untuk datang dan mendengarkan hasil temuan yang akan disampaikan oleh sang Tetua adat. Suasana pun berubah menjadi hening. Hanya bunyi desiran angin dan desahan nafas penduduk yang terdengar.

Tetua adat dengan penuh wibawa bertanya “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun juga tidak berada di rumah”. Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya. Dari jumlah yang tidak banyak itu mudah diketahui bahwa ada dua keluarga yang kehilangan anggotanya. Karena enggan menyebutkan nama kedua anak itu, mereka hanya menyapa dengan panggilan umum orang Galela yakni Majojaru (nona) dan Magohiduuru (nyong). Sepintas kemudian, mereka bercerita perihal kedua anak itu.

Majojaru sudah dua hari pergi dari rumah dan belum juga pulang. Sanak saudara dan sahabat sudah dihubungi namun belum juga ada kabar beritanya. Dapat dikatakan bahwa kepergian Majojaru masih misteri. Kabar dari orang tua Magohiduuru mengatakan bahwa anak mereka sudah enam bulan pergi merantau ke negeri orang namun belum juga ada berita kapan akan kembali.

Majojaru dan Magohiduuru adalah sepasang kekasih. Di saat Magohiduuru pamit untuk pergi merantau, keduanya sudah berjanji untuk tetap sehidup-semati. Sejatinya, walau musim berganti, bulan dan tahun berlalu tapi hubungan dan cinta kasih mereka akan sekali untuk selamanya. Jika tidak lebih baik mati dari pada hidup menanggung dusta.

Enam bulan sejak kepergian Magohiduuru, Majojaru tetap setia menanti. Namun, badai rupanya menghempaskan bahtera cinta yang tengah berlabuh di pantai yang tak bertepi itu.

Kabar tentang Magohiduuru akhirnya terdengar di dusun Lisawa. Bagaikan tersambar petir disiang bolong Majojaru terhempas dan jatuh terjerembab. Dirinya seolah tak percaya ketika mendengar bahwa Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Janji untuk sehidup-semati seolah menjadi bumerang kematian.

Dalam keadaan yang sangat tidak bergairah Majojaru mencoba mencari tempat berteduh sembari menenangkan hatinya. Ia pun duduk berteduh di bawah pohon Beringin sambil meratapi kisah cintanya.

Air mata yang tak terbendung bagaikan tanggul dan bendungan yang terlepas, airnya terus mengalir hingga menguak, tergenang dan menenggelamkan bebatuan tajam yang ada di bawah pohon beringin itu. Majojaru akhirnya tenggelam oleh air matanya sendiri.

Telaga kecil pun terbentuk. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endo Lisawa. Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga yang mereka namakan Telaga Biru.

Telaga Biru - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)
Sumber: Pemda Halmahera Utara
Telaga biru hingga saat ini selalu tampak bersih. Airnya sejernih kristal berwarna kebiruan. Keunikan telaga Biru adalah setiap dedaunan yang jatuh di atasnya tidak akan tenggelam karena seolah terhisap untuk dibersihkan oleh bebatuan yang ada di tepian telaga.

Mitos
Sampai saat ini mitos asal-mula telaga Biru masih terus terjaga di masyarakat. Pasangan muda-mudi dari Galela dan Tobelo ada yang datang ke telaga ini untuk saling mengikat janji. Sebagai tanda ikatan mereka akan mengambil air dengan daun Cingacinga dan lalu meminumnya bersama. Air yang masih tersisa biasanya akan dipakai untuk membasuh kaki dan wajah. Maknanya adalah supaya jangan ada lagi air mata yang mengalir dari setiap ikatan janji dan hubungan.

Perjalanan
Jarak Desa Mamuya adalah sekitar 15 Km dari utara Tobelo. Akses dari jalan raya utama ke lokasi telaga biru sangatlah dekat yakni sekitar 25 m.

Telaga Duma-Galela - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)

Telaga Duma-Galela - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)

Telaga Duma - Galela merupakan danau terbesar di pulau Halmahera dan memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat setempat. Duma menawarkan panorama alam yang indah dan natural. Airnya jernih dan tenang sehingga cocok untuk renang, mancing dan berperahu. Telaga Duma adalah salah satu Objek Wisata yang dapat anda temukan di wilayah Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.

Di danau Galela terdapat kerambah ikan dengan beberapa rumah makan ikan bakar terapung di sampingnya. Ikan bakar terasa jauh lebih nikmat karena juga disuguhi dengan pemandangan indah di Telaga Duma yang dilatarbelakangi oleh gunung-gunung. Ikan yang tersedia adalah jenis mujair. Rumah makan ini tidak kelihatan dari jalan utama sehingga sebaiknya Anda bertanya kepada masyarakat setempat supaya tidak tersesat.

Telaga Duma-Galela - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)
Sumber: Blog Mulyanto Syawal

Tidak jauh dari rumah makan tersebut yakni sekitar lima menit dengan kendaraan bermotor, Anda akan menemukan Tanjung Duma. Tempat ini saat ini bernama Tanjung Van Dijken. Di lokasi ini, Anda akan menemukan monumen Hendrik Van Dijken. Monumen ini dibangun sebagai penghormatan sekaligus mengenang jasa sang misionaris asal Belanda yang menjadi pembawa Injil pertama di bumi Halmahera pada tahun 1816.

Menurut cerita, lokasi itu merupakan tempat yang diangkerkan oleh masyarakat setempat karena ada raksasa jahat bernama tumadoa yang menghuninya. Van Dijken sendiri oleh penguasa setempat ditempatkan di lokasi tersebut dengan maksud agar dirinya dilenyapkan oleh sang raksasa. 

Singkatnya, keberhasilan Van Dijken untuk dapat bertahan tinggal di situ kemudian melahirkan istilah “duma widoohawa” (bahasa Galela) yang berarti “cuma dia yang tidak diapa-apakan”. Kata Duma kemudian menjadi sangat populer untuk nama danau terbesar di Halmahera Utara tersebut meskipun momennya lebih terkait dengan peristiwa letusan hebat gunung Tarakani di Galela waktu itu. 

Telaga Duma-Galela - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)
Sumber: Blog Mulyanto Syawal
Yang menarik dari monumen tersebut adalah patung Hendrik Van Dijken digambarkan sedang berdiri di atas bumi Halmahera sambil memegang Injil di tangan kiri dan cangkul di tangan kanannya. Cangkul merupakan simbol bahwa selama melakukan misinya Van Dijken juga memberdayakan sektor perkebunan khususnya tembakau dan kopi. Beberapa pohon besar yang sudah berusia lebih dari seratus tahun di lokasi monument diyakini sebagai pohon yang dahulu ditanam oleh sang misionaris.


Di sisi barat daya Telaga Duma juga terdapat peninggalan sejarah yang lain berupa bunker Jepang. Telaga Duma - Galela berada di sebelah utara Tobelo dengan jarak sekitar 26 km dan lama perjalanan 30 menit dengan kendaraan bermotor.

Pulau Meti - Wisata Bahari dan Sejarah Halmahera Utara (Wilayah Tobelo)

Pulau Meti - Wisata Bahari dan Sejarah Halmahera Utara (Wilayah Tobelo)

Pulau Meti terletak tidak jauh dari Desa Todokuiha dan merupakan tujuan wisata akhir pekan bagi masyarakat sekitar. Pulau Meti adalah salah satu objek wisata di Wilayah Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Hamparan pasir putih dan air laut yang sejernih kristal dapat anda temui di pulau ini.

Pulau Meti - Wisata Bahari dan Sejarah Halmahera Utara (Wilayah Tobelo)


Bagi anda yang menyukai petualangan, berjalan menjelajahi pulau ini bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Di sisi timur Meti tampak daratan Kabupaten Halmahera sedangkan pada bagian lainnya anda akan menjumpai bebatuan karang yang indah dan hutan yang masih alami. Di beberapa lokasi anda bahkan masih dapat menemukan peninggalan Jepang semasa PD II seperti serpihan pesawat, meriam, senapan, dan lain sebagainya.

Pulau Meti juga cocok untuk yang menyukai diving atau snorkeling. Anda dapat menemukan terumbu karang yang berwarna-warni dan juga berbagai jenis ikan di perairan ini.

Pulau Meti - Wisata Bahari dan Sejarah Halmahera Utara (Wilayah Tobelo)
Sumber: Blog Mulyanto Syawal
Jika Anda mengunjungi Pulau Meti sempatkanlah juga untuk mampir di pulau Pasirtimbul yang terletak hanya sedikit di sebelah utara pulau Meti. Sebaiknya Anda juga mempersiapkan bekal sebelum mengunjungi Pulau ini.

Pulau Meti berada di sebelah selatan wilayah Tobelo dan secara administratif masuk dalam Kecamatan Tobelo Timur. Desa Todokuiha di selatan Tobelo adalah pintu masuk ke Pulau Meti. Gunakanlah mikrolet jurusan Mawea dari terminal Wosia di Kota Tobelo lalu turun di dermaga Todokuihua. Dari situ pulau Meti hanya berjarak sekitar 15 menit dengan perahu ketinting.