Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan

Fenomena Pantai Pasir Anjing - Wisata PULAU TALIABU (Provinsi Maluku Utara)

Fenomena Pantai Pasir Anjing - Wisata PULAU TALIABU (Provinsi Maluku Utara)


Desa Jorjoga terkenal dengan pantai pasir putih yang menawan dan memanjang sekitar 3,5 km. Disamping itu terdapat fenomena yang unik, yakni kawasan pasir di pantai ini mengeluarkan bunyi lengkingan suara anjing ketika diinjak sehingga pantai ini disebut Pantai Pasir Anjing. Pantai ini berada di Desa Jorjoga, Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara.

Saat Anda sedang berjalan melewati pantai pasir anjing maka akan terdengar suara "Ngiiik, ngiiik, ngiiik". Semakin cepat hentakan kaki maka semakin banyak lengkingan tersebut terdengar, seakan-akan ada kawanan anak anjing yang berlari mengejar-ngejar. Suara tersebut semakin jelas terdengar saat terik matahari. Namun, saat pagi hari atau ketika turun hujan dan pasirnya lembab, suara tersebut kurang terdengar. Luasan pasir anjing hanya sekitar 50 meter persegi yang mungkin mengandung unsur tertentu sehingga menimbulkan bunyi tersebut, belum ada penelitian spesifik yang menjelaskan fenomena alam ini. Sementara hamparan pasir lainnya disekitar pasir anjing tersebut merupakan pasir biasa dan tidak berbunyi demikian. 

Fenomena Pantai Pasir Anjing - Wisata PULAU TALIABU (Provinsi Maluku Utara)
Sumber: Foto Fahrul Marsaoly
Untuk mencapai pantai ini, dapat menggunakan moda transportasi laut maupun darat. Lewat laut, perjalanan memakan waktu sekitar dua jam dari Bobong, ibukota Pulau Taliabu. Perjalanan jalur darat justru memakan waktu yang lebih lama, yakni tiga jam. Itupun jika kondisi jalan tidak sedang berlumpur dan sungai-sungai yang tanpa jembatan arusnya tidak deras sehingga aman dilewati kendaraan.

Air Terjun Kalimat - Wisata Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara)

Air Terjun Kalimat - Wisata Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara)

Desa Jorjoga, Kecamatan Taliabu Utara menyimpan salah satu misteri yakni "Air Kalimat", konon pada jaman dahulu air terjunnya sering terdengar "Kalimat Syahadat" sehingga air terjun ini di sebut "Air Kalimat" atau "Air Terjun Kalimat". Air terjun ini merupakan salah satu Objek Wisata Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara.

Sebelum mencapai Air Terjun Kalimat, Anda terlebih dahulu harus melewati Batu Papan. Batu Papan memiliki panorama yang sangat indah dan unik. Dari Batu Papan ke Air Terjun tersebut jaraknya sekitar 3 km. Aliran Air Terjun Kalimat mengalir melewati Batu Papan tersebut.

Air Terjun Kalimat - Wisata Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara)
Sumber: Foto Fadhil (Batu Papan)
Air Terjun Kalimat - Wisata Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara)
Sumber: Foto Fadhil (Batu Papan)
Desa Jorjoga dapat dicapai dengan speedboat dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dari Bobong, Ibukota Kabupaten Taliabu.

Pulau Seho - Wisata Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara)

Pulau Seho - Wisata Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara)

Pulau Seho memiliki keindahan alam yang mempesona. Perairan Pulau Seho yang sangat jernih dan alami juga sangat cocok untuk kegiatan snorkeling dan diving. Pulau Seho merupakan salah satu tempat wisata di Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara.

Bagi Anda yang suka eksplorasi alam, Pulau Seho adalah pilihan yang tepat karena terdapat cagar alam.  Tipe habitat utama di pulau ini adalah hutan hujan semi selalu hijau. Topografinya di bagian selatan landai sedangkan di bagian utara bergunung rendah dengan ketinggian maksimal 426 mdpl.

Pulau Seho - Wisata Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara)
Sumber Foto: Andri
Jenis burung yang dapat ditemukan di daerah ini, seperti: Gosong sula (Megapodius bernsteinii), Walik malomiti (Ptilinopus subgularis), Pergam putih (Ducula luctuosa), Perkici baenandonka (Trichoglossus flavoviridis), Serindit maluku (Loriculus amabilis), Kepudang-sungu kelabu (Coracina schistacea), Kepudang-sungu sula (Coracina sula), Sikatan-rimba Sula (Rhinomyias colonus), Raja-perling sula (Basilornis galeatus). Selain itu, Anda dapat menemukan burung endemik Maluku Utara seperti: Kakatua Alba (Cacatua alba), Nuri Ternate (Lorius garrulus), Perkicit Violet (Eos squamata), dan Burung Rangkong (Rhyticeros plicatus). Hal menarik lainnya juga terdapat fauna yakni Penyu hijau (Chelonia mydas) di pulau Seho.

Pulau Seho pada bagian yang terdekat hanya berjarak sekitar 4 km dari Bobong, Ibukota Pulau Taliabu. Anda dapat menyewa perahu kecil di pelabuhan Bobong.

Batu Kopi - Wisata Pulau Morotai

Batu Kopi - Wisata Pulau Morotai

Batu Kopi ada di pesisir pantai Pulau Posiposi-Rao, Kecamatan Morotai Selatan Barat, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Batu ini sangat unik karena pada waktu tertentu menebar bau kopi padahal tidak terdapat tanaman kopi di area sekitarnya. Selain itu, Batu Kopi ini juga indah sekali yang berada di hamparan pasir putih dan dibawah batu terdapat lubang cukup besar.

Batu Kopi - Wisata Pulau Morotai
Sumber: Foto Anton Abdul Karim
Batu Kopi yang berupa batu karang dianggap mengandung misteri oleh warga. Setiap hari, pada waktu sekitar jam 8 - 10 pagi dan 3 - 5 sore, batu tersebut menebar aroma kopi segar. Aroma itu hanya tercium sekitar 10 meter di sekeliling batu tersebut. Menurut warga setempat, jika ingin mencium aroma tersebut maka Anda harus tenang dan tidak boleh ada keributan disekitarnya. Jika datang bersama dengan rombongan ke tempat ini, maka ada beberapa diantaranya pasti tidak akan mencium aroma kopi tersebut karena hal itu sudah sering terjadi.

Di lokasi Batu Kopi belum tersedia fasilitas untuk turis. Jika, Anda ingin menikmati air terjun, Anda bisa berjalan kaki kira-kira sekitar 500 meter dari Batu Kopi dengan menyusuri sungai yang bermuara ke laut. Trekking ini tentunya menjadi pengalaman tak terlupakan. Apalagi hutannya yang masih alami.

Jika Anda berangkat dari Kota Daruba (Pulau Morotai) maka Anda perlu menggunakan speedboat untuk mencapai Pulau Posiposi Rao. Lama perjalanannya bisa sekitar 1.5 jam.

Pulau Ngelengele - Wisata Pulau Morotai

Pulau Ngelengele - Wisata Pulau Morotai

Pulau Ngelengele adalah pulau menarik lainnya yang dapat Anda kunjungi di kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Anda bisa melihat kehidupan nelayan melakukan pembudidayaan ikan dan mutiara. Pulau Ngelengele terbagi dua yaitu Pulau Ngelengele Besar dan Pulau Ngelengele Kecil.

Di Pulau Ngelengele Anda dapat melihat barisan tong yang terikat kuat, terapung dengan teratur di bibir pantai yang merupakan tempat untuk budidaya ikan kerapu. Bagi Anda yang tertarik dengan pengetahuan di dunia perikanan, tentunya tempat ini layak untuk dikunjungi karena Anda bisa melihat bagaimana caranya nelayan disini membudidayakan ikan tersebut, Anda dapat menanyakan mereka mengenai cara pemilihan bibit ikan atau pemilahan makanan untuk ikan.

Pulau Ngelengele - Wisata Pulau Morotai
Sumber: Foto McBill Abdul Aziz
Selain itu, Anda dapat melihat budidaya mutiara di tempat ini. Hasil budidaya tiram mutiara yang dikelola oleh investor sudah diekspor ke berbagai negara. Mutiara Ngelengele juga dimanfaatkan masyarakat setempat untuk dijadikan berbagai macam aksesoris yang unik dan mewah seperti gelang, cincin, atau rangkaian kalung mutiara. Tentunya Anda dapat membeli disini untuk dijadikan oleh-oleh bagi orang yang Anda kasihi. 

Selain itu, Ngelengele juga memiliki cemilan favorit yakni buah Amo atau dikenal buah Sukun di Jawa. Masyarakat setempat biasanya mengolah buah ini menjadi berbagai macam kudapan. Amo dapat digoreng dalam minyak panas, dimasak, atau diolah menjadi kuah bersantan. Selain itu dapat dinikmati menjadi keripik dengan olesan gula nan lezat.

Pulau Ngelengele juga memiliki hamparan pasir pantai putih yang halus dan memiliki landscape yang indah. Sangat cocok Anda menjelajahi keindahan pulau ini. Pulau Ngelengele dapat diakses dengan menyewa speedboat dari Kota Daruba, Pulau Morotai. Lama perjalanannya ke Pulau Ngelengele besar adalah sekitar 45 menit, sedangkan ke Pulau Ngelengele kecil adalah sekitar 30 menit.

Pulau Sumsum - Wisata Pulau Morotai

Pulau Sumsum - Wisata Pulau Morotai
Pulau Sumsum yang dikenal juga sebagai Pulau Zum-zum memiliki nilai sejarah yang tinggi pada masa Perang Dunia II yakni menjadi markas dan tempat peristirahatan Jenderal Douglas Mac. Arthur yang merupakan pemimpin pasukan sekutu untuk kawasan Asia Pasifik sehingga Pulau Sumsum sering disebut juga sebagai "Mac. Arthur Island". Anda juga akan takjub dengan keindahan Pulau Sumsum yang dipenuhi pantai pasir putih berkerikil dan air laut disini sejernih kristal. Alamnya yang masih asri membuat Anda tergoda untuk menjelajahi pulau kecil ini. Pulau Sumsum adalah satu wisata kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara.

Pulau Sumsum - Wisata Pulau Morotai
Sumber: Foto Abdul Aziz
Pulau Sumsum sangat dekat dari Daruba yang merupakan Ibukota Kab. Pulau Morotai, jaraknya hanya sekitar 8 km dengan menggunakan speed boat, lama perjalanannya sekitar 20 menit. Hal-hal yang dapat Anda temukan di Pulau Sumsum sebagai berikut:

1. Di pulau ini terdapat puing-puing rumah bekas tempat tinggal Mac. Arthur. 
2. Anda dapat temukan gua pusat komando dan tempat pendaratan tank amfibi. Gua tersebut juga merupakan tempat persembunyian Jenderal Mac Arthur. 
3. Di bibir pantai Sumsum masih dapat ditemui bekas helipad.

Pulau Sumsum - Wisata Pulau Morotai

4. Monumen Mac Arthur untuk mengenang jenderal tersebut saat memberikan perintah untuk mengebom Hiroshima dan Nagasaki serta sekaligus mengingat tempat ini sebagai tempat persembunyian Amerika saat Perang Dunia II ada di pulau ini.

Pulau Sumsum - Wisata Pulau Morotai


Air Terjun Tiga Bidadari - Wisata Halmahera Timur

Air Terjun Tiga Bidadari - Wisata Halmahera Selatan

Air Terjun Tiga Bidadari sangat indah dan menarik untuk dikunjungi. Air terjun ini dinamakan "tiga bidadari" karena konon menurut cerita yang beredar di tengah masyarakat, dulu ada perempuan cantik yang berambut panjang dari kayangan mandi disana. Air Terjun Tiga Bidadari adalah salah satu wisata kab. Halmahera Timur di Provinsi Maluku Utara yang patut Anda kunjungi.

Air Terjun Tiga Bidadari berada di Desa Daka Ino, Kecamatan Wasile Timur. Akses ke lokasi ini dapat dicapai dengan kendaraan motor roda dua dan roda empat, jaraknya sekitar 45 km dari Bandara Buli. Jarak dari jalan utama ke lokasi air terjun tersebut adalah sekitar 3 km, ada baiknya Anda meminta penduduk setempat untuk menjadi pemandu. 

Anda akan trekking memasuki jalan menuju air terjun ini. Selama perjalanannya tentunya Anda akan disuguhi panorama alam pedesaan yang asri dengan hamparan sawah yang terbentang luas dengan latar perbukitan hijau. Daerah ini termasuk daerah transmigrasi dari Jawa pada tahun 1980'an sehingga sistem pertaniannya secara tidak langsung seperti yang ada di Jawa. Setelah itu, Anda akan mulai memasuki hutan yang terkadang jalannya cukup menanjak. 

Air Terjun Tiga Bidadari - Wisata Halmahera Selatan

Anda akan terpesona dengan keindahan air terjun ini ketika Anda sampai di lokasi ini. Air terjun ini merupakan salah satu air terjun terindah di Maluku Utara. Air terjun ini terdiri dari bebatuan kapur yang ketinggiannya sekitar 100 meter dengan lebar 8 meter di bagian atas dan 20 meter di bagian bawah. Sangat bagus untuk Anda jelajahi keindahan air terjun ini.

Taman Nasional Aketajawe Lolobata - Wisata Halmahera Timur

Taman Nasional Aketajawe Lolobata - Wisata Halmahera Timur

Taman Nasional Aketajawe Lolobata terdapat beragam flora dan fauna yang telah menarik minat peneliti untuk berkunjung ke taman nasional ini. Taman Aketajawe Lolobata berada di Kabupaten Halmahera Timur dan Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Bagi pecinta petualangan, tentunya taman nasional ini juga menjadi hal yang sangat menarik bagi Anda. Salah satu yang paling menarik perhatian bagi pengunjung adalah Burung Bidadari yang langka dan sangat cantik, unik dan juga pandai menari. Burung Bidadari mempunyai sayap yang indah dan berwarna-warni dan sangat memikat hati. 

Taman Nasional Aketajawe Lolobata ditetapkan pada tanggal 18 Oktober 2004 yang luasnya mencapai 167.300 hektar yakni sekitar 9% dari luas Pulau Halmahera. Balai taman nasional ini berada di kompleks Perkantoran Pemda Provinsi Maluku Utara di Kota Sofifi, Anda dapat mencari informasi terlebih dahulu di balai tersebut untuk memudahkan Anda menjelajahi taman nasional tersebut. Taman nasional ini terbagi menjadi dua blok kawasan, yaitu blok Aketajawe (77.100 hektar) dan blok Lolobata (90.200 hektar). 

Taman Nasional Aketajawe Lolobata - Wisata Halmahera Timur
Sumber: Foto Petualang Adita di Taman Nasional Aketajawe Lolobata (Detik.com)

Beragam flora dan fauna yang dapat temukan di taman nasional ini:

1. Jenis-jenis burung perkampungan, seperti jenis-jenis bondol (Lonchura spp.), isap-madu (Nectarinia spp.), sikatan kebun (Rhypidura leucophris), tekukur biasa (Streptopelia chinensis), dan sebagainya.

2. Di daerah sungai dapat ditemukan ikan, udang, kerang, dan sebagainya. 

3. Jenis-jenis tumbuhan atau vegetasi yang dapat Anda temukan adalah damar (Agathis sp.), cemara gunung (Casuarina sumatrana), bintangur (Calophyllum inophyllum), kayu bugis (Koordersiodendron pinnatum), benuang (Octomeles sumatrana), nyatoh (Palaquium obtusifolium), Anthocephalus chinensis, Duabanga moluccana dan Piper aduncum serta beberapa jenis kenari (Canariumspp.). Terdapat juga beragam jenis anggrek yang terdapat di dalam kawasan, serta jenis-jenis kantung semar (Nepenthes sp.) di daerah dataran tinggi kawasan.

4. Diperkirakan setidaknya terdapat 33 jenis mamalia di dalam kawasan ini yakni meliputi jenis-jenis kuskus (seperti kuskus maluku [Phalanger ornatus]), bajing terbang (Petaurus breviceps papuanus), beragam kelelawar (ordo: Chiroptera), musang (Viviridae), babi hutan (Sus schrofa), rusa (Cervus timorensis), serta beberap jenis tikus (Muridae). Dari 33 jenis ini, enam jenis di antaranya endemik Maluku Utara (satu jenis di antaranya kuskus: Phalanger sp. merupakan jenis endemik Halmahera). Terdapat juga dua jenis endemik untuk kawasan Maluku dan Maluku Utara.

5. Hasil survei oleh Burung Indonesia, menunjukkan setidaknya terdapat 104 jenis (39 suku) burung di dalam kawasan taman nasional ini diantaranya terdapat 25 jenis burung khas (endemik) Maluku Utara termasuk empat jenis endemik Pulau Halmahera, yaitu mandar gendang (Habroptila wallacii), cekakak murung (Todiramphus fenubris), kepudang-sungu halmahera (Coracina parvula), dan kepudang halmahera (Oriolus phaeocromus). Jenis-jenis burung lain yang cukup menarik, seperti bidadari halmahera (Semioptera wallacii), kakatua putih (Cacatua alba), kasturi ternate (Lorius garrulus), paok halmahera (Pitta maxima), julang irian (Aceros plicatus), gosong kelam (Megapodius freycinet), beragam pergam (Ducula spp.) serta walik (Ptilinopus spp.), dan sebagainya. 

Lima jenis di antara 104 jenis merupakan sub-jenis endemik Pulau Halmahera, yaitu nuri-raja ambon (Alisterus amboinensis hypophonius), cekakak-pita biasa (Tanysiptera galatea browningi), kehicap tengkuk-putih (Monarcha pileatus pileatus), bidadari halmahera (Semioptera wallacii halmaherae), dan kacamata halmahera (Zosterops atriceps fuscifrons).

Dari 104 jenis tersebut, 23 jenis diantaranya dilindungi oleh Pemerintah Republik Indonesia, seperti elang tiram (Pandion haliaetus), elang bondol (Haliastur indus), junai mas (Caloenas nicobarica), nuri bayan (Eclectus roratus), raja-udang biru-langit (Alcedo azurea), bidadari halmahera, gagak cendrawasih (Lycocorax pyrrhopterus), dan sebagainya. 

6. Diperkirakan setidaknya terdapat 53 jenis reptilia di dalam kawasan ini. Beberapa di antaranya adalah kadal air (Hidrosaurus amboinensis), biawak atau soa-soa (Varanus indicus), kadal daun (Emoia sorex), kadal raksasa (Tiliqua gigas), ular python batik (Python reticulatus), ular hitam (Stegonotus batjanensis), dan diperkirakan juga masih terdapat buaya muara (Crocodilus porosus). Dari 53 jenis tersebut, delapan jenis merupakan endemik Maluku Utara, termasuk satu jenis endemik Pulau Halmahera, yaitu jenis ular Tropidonophis punctiventris.

7. Diperkirakan terdapat 17 jenis amfibia di dalam kawasan ini. Beberapa di antaranya adalah jenis katak pohon hijau yang cukup umum Litoria infrafrenata, katak sungai biasa Rana papuaatau, katak-katak kerdil (Microhylidae) seperti jenis Oreophryne frontifasciataDari 17 jenis tersebut, lima jenis endemik Maluku Utara dan empat jenis endemik Pulau Halmahera, yaitu Callulops dubia, Cophixalus montanus, Hylophorbus boettgeri, dan Hyla rueppelli.

Kawasan ini juga menjadi tempat perlindungan burung-burung paling terancam dan langka secara global menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), yaitu mandar gendang, kakatua putih, kasturi ternate, cekakak murung, dan cikukua hitam (Philemon fuscicapillus).

Akses

Ada 2 jalur menuju ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata:
1. Naik speedboat dari Desa Subaim (Wasile) sekitar 30 menit atau naik mobil sewa dari Subaim yang perjalanannya sekitar 1 jam.
2. Naik speedboat dari Desa Daru (Tobelo Selatan) sekitar 40 menit.

Pulau Makian - Wisata Halmahera Selatan

Pulau Makian - Wisata Halmahera Selatan

Pulau Makian termasuk pulau kecil yang lebarnya sekitar 10 km. Pulau ini terdapat Gunung Api Kie Besi dengan ketinggian 1.357 meter di atas laut dengan lebar kawah 1.5 km yang membuat Pulau Makian terlihat indah dan menjadi hal yang menarik bagi yang suka mendaki gunung. Dahulu pulau ini merupakan kediaman Sultan Bacan pertama kali sebelum pindah ke Pulau Lelei dan akhirnya ke Pulau Bacan. Pulau Makian berada di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Pulau Makian adalah penghasil kenari sehingga sering disebut juga "Pulau Kenari". Masyarakat biasanya memanen pohon kenari antara bulan Maret hingga Agustus. Kacang kenari disini memiliki ukuran empat kali lebih besar dari ukuran lazimnya dan merupakan salah satu kenari terbaik di Indonesia. Kenari sering dijadikan kue, halua kenari, bagea kenari, minyak, wewangian, dsb. Kacang kenari sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung, otak, dan berbagai manfaat lainnya. Pulau Makian juga banyak terdapat Pohon Kelapa sangat cocok untuk melepas dahaga setelah lelah mengelilingi Pulau Makian yang indah.

Pulau Makian - Wisata Halmahera Selatan
Sumber: Foto Ullokan
Pulau Makian juga terdapat Benteng Mauritius Ngofakiaha, namun kondisinya kurang terawat dan perlu dibenah kembali sehingga sejarah tersebut tidak hilang. Benteng Mauritius dibangun oleh Gubernur Jenderal Pieter Both di pesisir pantai pulau Makian dimana semula benteng ini bernama Gnofficquia atau Noseca. Sejak tanggal 22 Desember 1659, bersama dengan benteng Tafasoho, benteng ini diturunkan tingkat kepentingannya dan ketika itu benteng ini hanya sebuah bangunan persenjataan. Sementara itu, bangunan pertahanan yang berbentuk setengah lingkaran, dan mengelilingi rumah atau gudang baru di pesisir pantai justru diperkuat, yang kemudian diberi nama Benteng Zeeburg. Di dalam benteng ini, Pieter Both mengadakan perundingan dengan Sangaji Makian dan Sangaji Limatau yang mewakili Kesultanan Ternate, dan berhasil memperoleh sejumlah kesepakatan yang antara lain bahwa orang-orang Islam dan Kristen mempunyai kebebasan yang sama dalam melaksanakan ajaran agama mereka masing-masing.

Pulau Makian - Wisata Halmahera Selatan
Benteng Mauritius Ngofakiaha (Sumber: Foto East Indonesia)

Perjalanan ke Pulau Makian dari Kota Ternate adalah sekitar 1.5 jam dengan speedboat.

Air Mata Belanda - Wisata di Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Air Mata Belanda - Wisata di Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Air Mata Belanda merupakan jeram semi vertikal yang terdapat di sebuah sungai di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku UtaraAir Mata Belanda memiliki air yang sangat jernih dan membuat kita betah berlama-lama bermain air di tempat ini. Pemandangan yang indah di Air Mata Belanda, suara arus sungai dan ketengangan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Nama tempat ini cukup unik. Konon ada satu keluarga Belanda yang sedang berpiknik di sekitar sungai yang merupakan tempat Air Mata Belanda yang dikenal saat ini, salah satu diantara mereka tidak sengaja menjatuhkan alat makan dan hendak mengambilnya, malahan terhanyut dan pada akhirnya sekeluarga pun ikut terhanyut karena ingin menolong dan mereka menangis histeris. 

Untuk menuju Air Mata Belanda, Anda harus trekking melewati kawasan hutan hujan tropis dan menuju ke hulu sungai. Titik mulai trekking menuju Air Mata Belanda tidak jauh dari Labuha, yakni berada di belakang kantor DPRD Halmahera Selatan kemudian berjalan sekitar 1 Km melewati padang rumput, dan pada akhirnya menuju ke hulu sungai. Selama trekking, ada baiknya jangan memetik buah cokelat dari pohon yang diikat dengan pita berwarna merah atau kuning karena menurut warga sekitar jika ada yang berani mengambil buahnya maka akan terkena santet.

Danau Laguna - Wisata Kota Ternate

Danau Laguna - Wisata Kota Ternate

Wilayah Indonesia bagian timur memang memiliki tempat-tempat wisata alam terbaik yang menakjubkan. Danau Laguna merupakan sebuah danau yang berlokasi di Desa Ngade, Kelurahan Fitu, Kota TernateProvinsi Maluku Utara. Berjarak sekitar 18 km dari Kota Ternate. Karena danau tersebut berlokasi di Desa Ngade, maka tak heran bahwa banyak orang menamai danau ini Danau Ngade.

Danau Laguna - Wisata Kota Ternate


Ketika berkunjung, wisatawan akan dimanjakan dengan bentangan panorama danau yang dikelilingi bukit yang hijau, laut yang biru dan gunung yang kokoh. Danau Laguna memiliki air yang tenang yang dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk budidaya ikan air tawar dan mengambil airnya untuk menyiram kebun. Selain itu, danau cantik ini juga dijadikan sebagai lokasi wisata pemancingan dan tempat berenang bagi wisatawan.



Untuk menuju tempat ini, kita bisa memilih penerbangan dengan tujuan Bandara Babullah, Ternate. Sesampainya di Bandara Babullah, kita bisa menyewa kendaraan untuk menuju Danau Laguna dengan waktu tempuh sekitar 40 menit.

Cagar Alam Gunung Sibela - Wisata Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Cagar Alam Gunung Sibela - Wisata Pulau Bacan (Halmahera Selatan)

Gunung Sibela ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam pada tahun 1987 dengan luas 23.024 Ha. Gunung Sibela merupakan salah satu gunung yang tertinggi di Maluku Utara dengan ketinggian 2.118 meter di atas permukaan laut. Cagar Alam Gunung Sibela terletak di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Cagar alam ini juga memiliki banyak sumber/mata air yang tetap mengalir ke beberapa sungai. Cagar alam ini sangat cocok sekali bagi para peneliti ataupun pecinta fotografer Flora dan Fauna. 


Beraneka ragam jenis fauna dapat ditemukan di Cagar Alam Gunung Sibela, seperti: Monyet (Macaca nigra sp.), Burung Nuri Ternate (Lorius garulus), Bayan (Eclectus roratus), Burung Raja (Cicinnurus regius), Kasturi Merah (Eos bornea), Kakatua Alba (Cacatua alba), Chattering Lory Lorius garrulus, Cacatua alba, Moluccan Scrubfowl (Eulipoa wallacei), Perkicit Violet (Eos squamata) dan sebagainya. Beberapa diantaranya populasinya menurun dan terancam punah karena eksploitasi alam. Sedangkan untuk flora yang dapat ditemukan misalnya: Matoa (Pometia pinnata), Gufasa (Vitex cofassus), Samama (Anthocephalus macrophyllus), Anggrek Alam serta adanya Cengkeh Alam yang sudah berumur cukup lama yang ditanam oleh penduduk (Cengkeh Avo).


Cagar Alam Gunung Sibela - Wisata Pulau Bacan (Halmahera Selatan)


Bagi pecinta pendakian gunung maka Gunung Sibela adalah salah satu yang masih misterius hingga saat ini. Belum tercatat siapa orang pertama yang pernah mencapai puncak gunung ini. Ben Dowson adalah salah satu pendaki gunung yang pernah mencoba mendaki puncak gunung Sibela pada tahun 2010. Namun, penduduk setempat juga belum mengetahui akses terbaik untuk mencapai gunung tersebut. Salah satu sisi gunung terdapat tebing yang curam tepat dibawah puncak dan kelihatannya agak mustahil melewati jalur tersebut. Sedangkan, jika dari sisi barat, penduduk desa menceritakan kisah ular rakasa dan setan yang menjaga sebuah danau misterius di kawah itu sendiri. Jadi, saran Ben Dowson kepada yang ingin trekking di daerah ini, sebaiknya memeriksa semua informasi di berbagai desa guna menghindari informasi tidak tepat yang pada akhirnya membuat Anda kesulitan mendaki Gunung Sibela.

Mendaki Gunung Api Dukono - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)

Mendaki Gunung Api Dukono - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)

Gunung Api Dukono dengan ketinggian 1185 meter di atas permukaan laut berada di bagian utara pulau Halmahera yang merupakan salah satu dari rangkaian gunung-gunung berapi aktif yang ada di Wilayah Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Buat Anda yang suka mendaki, sangat cocok bagi Anda untuk berpetualang dan menikmati keindahan di sekitar Gunung Api Dukono. 

Namun berbeda dengan gunung-gunung lainnya, Dukono memiliki kawah berapi dengan aktivitas yang tinggi. Pada letusan hebat di tahun 1550, lava yang dikeluarkan Dukono mengisi selat diantara Pulau Halmahera dan lereng utara dari Gunung Mamuya. Letusannya waktu itu mencapai skala 3 dari Volcanic Explosivity IndexDi Indonesia, dari sekian banyak gunung berapi aktif, Gunung Api Dukono bersama dengan Gunung Lokon di Sulawesi Utara merupakan dua yang paling sering berstatus waspada (level 2).  Setiap tahunnya sejak 1933, Dukono tercatat selalu melakukan erupsi. Erupsi merupakan aktifitas keluarnya magma dari dalam bumi yang biasanya ditandai dengan suara gemuruh guguran.

Perjalanan ke Gunung Api Dukono

Untuk mendaki Dukono diperlukan waktu 5 hingga 6 jam. Pendakian dapat dimulai dari desa Mamuya ataupun Desa Ruko. Sebelum melakukan pendakian, sebaiknya Anda terlebih dahulu menanyakan status terkini Dukono di Pos Pengamatan Gunung Api yang berada di desa Mamuya. Kemudian tanyakan tentang jalur untuk dilalui. Jalan kecil tepat di depan Kantor tersebut adalah awal dari jalur menuju puncak Dukono. Sebaiknya Anda ditemani oleh pemandu lokal.

Selama perjalanan ke Gunung Api Dukono, Anda juga dapat menjumpai Burung-burung khas Halmahera yang hidup di kawasan ini. Beberapa burung di antaranya seperti Nuri, Kakak Tua Putih, Elang dan Gagak. 

Pendakian Dukono lebih sulit saat tiba di area bebatuan vulkanik setelah Anda melewati hutan. Medannya cukup curam dan sempit sehingga Anda harus berhati-hati. Satu hal menarik dari area bebatuan vulkanik ini adalah cerita bahwa tempat ini sering digunakan penduduk berburu rusa (dalam bahasa setempat: "mangasu"). 

Mendaki Gunung Api Dukono - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)
Sumber: Flickr Hshdude
Setelah melewati bebukitan yang sulit, Anda akan melihat Gunung Api Dukono yang bersebelahan dengan gunung Karianga. Aktifitas gunung Dukono saat ini berlangsung di kawah Malupang Wariang yang berbentuk hampir bulat dengan diameter 360 m dan memiliki kedalaman 230 m.


Mendaki Gunung Api Dukono - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)
Sumber: Foto Benisius Anu
Persiapan Mendaki

Sebaiknya Anda siapkan perlengkapan mendaki terlebih dahulu dan juga menyiapkan parang karena jalur yang Anda lalui terkadang terhalang oleh semak belukar. Siapkan juga perlengkapan untuk bermalam di puncak, jika Anda beruntung maka Anda akan menyaksikan pijar api Dukono saat malam. Pendakian ke puncak jaraknya sekitar 14,3 Km yang biasanya dilakukan melalui jalan yang terletak persis di depan Pos Pengamatan Gunung Api di Desa Mamuya. Jika, Anda ingin mempersingkat perjalanan, Anda juga dapat menyewa ojek untuk melewati area perkebunan penduduk.

Telaga Biru - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)


Telaga Biru - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)

Telaga Biru berada di Desa Mamuya Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Penduduk setempat menamai tempat ini Telaga Biru oleh karena airnya yang jernih dan berwarna kebiruan. 

Asal Usul Telaga Biru

Cerita ini bermula di Dusun Lisawa, di tengah ketenangan hidup dan jumlah penduduk yang masih jarang, penduduk Lisawa tersentak gempar dengan ditemukannya air yang tiba-tiba keluar dari antara bebatuan hasil pembekuan lahar panas. Air yang tergenang itu kemudian membentuk sebuah telaga.

Airnya bening kebiruan dan berada di bawah rimbunnya pohon beringin. Kejadian ini membuat bingung penduduk. Mereka bertanya-tanya dari manakah asal air itu? Apakah ini berkat ataukah pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Berita tentang terbentuknya telaga pun tersiar dengan cepat. Apalagi di daerah itu tergolong sulit air. Berbagai cara dilakukan untuk mengungkap rasa penasaran penduduk. Upacara adat digelar untuk menguak misteri timbulnya telaga kecil itu. Penelusuran lewat ritual adat berupa pemanggilan terhadap roh-roh leluhur sampai kepada penyembahan Jou Giki Moi atau Jou maduhutu (Allah yang Esa atau Allah Sang Pencipta) pun dilakukan.

Acara ritual adat menghasilkan jawaban “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uhi imadadi ake majobubu” (Timbul dari akibat patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air).

Dolodolo (kentongan) pun dibunyikan sebagai isyarat agar semua penduduk dusun Lisawa berkumpul. Mereka bergegas untuk datang dan mendengarkan hasil temuan yang akan disampaikan oleh sang Tetua adat. Suasana pun berubah menjadi hening. Hanya bunyi desiran angin dan desahan nafas penduduk yang terdengar.

Tetua adat dengan penuh wibawa bertanya “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun juga tidak berada di rumah”. Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya. Dari jumlah yang tidak banyak itu mudah diketahui bahwa ada dua keluarga yang kehilangan anggotanya. Karena enggan menyebutkan nama kedua anak itu, mereka hanya menyapa dengan panggilan umum orang Galela yakni Majojaru (nona) dan Magohiduuru (nyong). Sepintas kemudian, mereka bercerita perihal kedua anak itu.

Majojaru sudah dua hari pergi dari rumah dan belum juga pulang. Sanak saudara dan sahabat sudah dihubungi namun belum juga ada kabar beritanya. Dapat dikatakan bahwa kepergian Majojaru masih misteri. Kabar dari orang tua Magohiduuru mengatakan bahwa anak mereka sudah enam bulan pergi merantau ke negeri orang namun belum juga ada berita kapan akan kembali.

Majojaru dan Magohiduuru adalah sepasang kekasih. Di saat Magohiduuru pamit untuk pergi merantau, keduanya sudah berjanji untuk tetap sehidup-semati. Sejatinya, walau musim berganti, bulan dan tahun berlalu tapi hubungan dan cinta kasih mereka akan sekali untuk selamanya. Jika tidak lebih baik mati dari pada hidup menanggung dusta.

Enam bulan sejak kepergian Magohiduuru, Majojaru tetap setia menanti. Namun, badai rupanya menghempaskan bahtera cinta yang tengah berlabuh di pantai yang tak bertepi itu.

Kabar tentang Magohiduuru akhirnya terdengar di dusun Lisawa. Bagaikan tersambar petir disiang bolong Majojaru terhempas dan jatuh terjerembab. Dirinya seolah tak percaya ketika mendengar bahwa Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Janji untuk sehidup-semati seolah menjadi bumerang kematian.

Dalam keadaan yang sangat tidak bergairah Majojaru mencoba mencari tempat berteduh sembari menenangkan hatinya. Ia pun duduk berteduh di bawah pohon Beringin sambil meratapi kisah cintanya.

Air mata yang tak terbendung bagaikan tanggul dan bendungan yang terlepas, airnya terus mengalir hingga menguak, tergenang dan menenggelamkan bebatuan tajam yang ada di bawah pohon beringin itu. Majojaru akhirnya tenggelam oleh air matanya sendiri.

Telaga kecil pun terbentuk. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endo Lisawa. Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga yang mereka namakan Telaga Biru.

Telaga Biru - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)
Sumber: Pemda Halmahera Utara
Telaga biru hingga saat ini selalu tampak bersih. Airnya sejernih kristal berwarna kebiruan. Keunikan telaga Biru adalah setiap dedaunan yang jatuh di atasnya tidak akan tenggelam karena seolah terhisap untuk dibersihkan oleh bebatuan yang ada di tepian telaga.

Mitos
Sampai saat ini mitos asal-mula telaga Biru masih terus terjaga di masyarakat. Pasangan muda-mudi dari Galela dan Tobelo ada yang datang ke telaga ini untuk saling mengikat janji. Sebagai tanda ikatan mereka akan mengambil air dengan daun Cingacinga dan lalu meminumnya bersama. Air yang masih tersisa biasanya akan dipakai untuk membasuh kaki dan wajah. Maknanya adalah supaya jangan ada lagi air mata yang mengalir dari setiap ikatan janji dan hubungan.

Perjalanan
Jarak Desa Mamuya adalah sekitar 15 Km dari utara Tobelo. Akses dari jalan raya utama ke lokasi telaga biru sangatlah dekat yakni sekitar 25 m.

Telaga Duma-Galela - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)

Telaga Duma-Galela - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)

Telaga Duma - Galela merupakan danau terbesar di pulau Halmahera dan memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat setempat. Duma menawarkan panorama alam yang indah dan natural. Airnya jernih dan tenang sehingga cocok untuk renang, mancing dan berperahu. Telaga Duma adalah salah satu Objek Wisata yang dapat anda temukan di wilayah Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.

Di danau Galela terdapat kerambah ikan dengan beberapa rumah makan ikan bakar terapung di sampingnya. Ikan bakar terasa jauh lebih nikmat karena juga disuguhi dengan pemandangan indah di Telaga Duma yang dilatarbelakangi oleh gunung-gunung. Ikan yang tersedia adalah jenis mujair. Rumah makan ini tidak kelihatan dari jalan utama sehingga sebaiknya Anda bertanya kepada masyarakat setempat supaya tidak tersesat.

Telaga Duma-Galela - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)
Sumber: Blog Mulyanto Syawal

Tidak jauh dari rumah makan tersebut yakni sekitar lima menit dengan kendaraan bermotor, Anda akan menemukan Tanjung Duma. Tempat ini saat ini bernama Tanjung Van Dijken. Di lokasi ini, Anda akan menemukan monumen Hendrik Van Dijken. Monumen ini dibangun sebagai penghormatan sekaligus mengenang jasa sang misionaris asal Belanda yang menjadi pembawa Injil pertama di bumi Halmahera pada tahun 1816.

Menurut cerita, lokasi itu merupakan tempat yang diangkerkan oleh masyarakat setempat karena ada raksasa jahat bernama tumadoa yang menghuninya. Van Dijken sendiri oleh penguasa setempat ditempatkan di lokasi tersebut dengan maksud agar dirinya dilenyapkan oleh sang raksasa. 

Singkatnya, keberhasilan Van Dijken untuk dapat bertahan tinggal di situ kemudian melahirkan istilah “duma widoohawa” (bahasa Galela) yang berarti “cuma dia yang tidak diapa-apakan”. Kata Duma kemudian menjadi sangat populer untuk nama danau terbesar di Halmahera Utara tersebut meskipun momennya lebih terkait dengan peristiwa letusan hebat gunung Tarakani di Galela waktu itu. 

Telaga Duma-Galela - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Galela)
Sumber: Blog Mulyanto Syawal
Yang menarik dari monumen tersebut adalah patung Hendrik Van Dijken digambarkan sedang berdiri di atas bumi Halmahera sambil memegang Injil di tangan kiri dan cangkul di tangan kanannya. Cangkul merupakan simbol bahwa selama melakukan misinya Van Dijken juga memberdayakan sektor perkebunan khususnya tembakau dan kopi. Beberapa pohon besar yang sudah berusia lebih dari seratus tahun di lokasi monument diyakini sebagai pohon yang dahulu ditanam oleh sang misionaris.


Di sisi barat daya Telaga Duma juga terdapat peninggalan sejarah yang lain berupa bunker Jepang. Telaga Duma - Galela berada di sebelah utara Tobelo dengan jarak sekitar 26 km dan lama perjalanan 30 menit dengan kendaraan bermotor.

Telaga Lina - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Tobelo)

Telaga Lina - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Tobelo)

Di pedalaman hutan Tobelo terdapat sebuah danau yang dikelilingi hutan lebat dengan air sejernih kristal. Danaunya yang tenang menyimpan beragam siput dan ikan air tawar seperti mujair dan nila. Telaga Lina adalah salah satu Objek Wisata di Wilayah Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara. Provinsi Maluku Utara.

Di sekitar telaga lina terdapat sebuah dusun bernama kampung Telaga Lina. Dari sinilah nenek moyang orang Tobelo kemudian bermigrasi hingga menempati kawasan pesisir timur wilayah Tobelo. Mereka yang memilih tinggal di sini, melanjutkan kehidupan sebagai komunitas tradisional yang eksis hingga saat ini dengan mengusahakan hidup dari hasil danau dan hutan.

Jika Anda tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat terpencil dan berinteraksi dengan masyarakat tradisional maka mengunjungi Lina wajib masuk dalam daftar perjalanan Anda.

Telaga Lina berada di sekitar 30 Km di sebelah selatan kota Tobelo. Jika Anda menggunakan transportasi umum, maka gunakanlah mikrolet jurusan Trans Zero dari perempatan Jl. Simange-Sengkanaung (Kota Tobelo) lalu turun di desa Trans Zero. Kemudian, lanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 4 Km ke Wangongira. Dari Wangongira, Telaga Lina berjarak sekitar 7 Km.

Padi Wangongira - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Tobelo)

Padi Wangongira - Wisata Halmahera Utara (Wilayah Tobelo)

Jauh terpencil di pedalaman Tobelo terdapat sebuah dusun di tepi aliran sungai dengan air sebening kristal. Desa tradisional ini terkenal dengan nama Wangongira dan memiliki keunikan tersediri. Salah satunya adalah adanya tanaman padi yang tumbuh di aliran sungai yang deras. Sungai tempat padi tersebut tumbuh diberi nama Molulu yang artinya tergelincir. Desa ini berada di wilayah Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.

Menurut legenda, suatu ketika seorang nenek kembali dari ladang dengan membawa padi. Lalu sang nenek tergelincir dan hanyut terbawa arus sungai. Padi yang dibawa nenek tadi kemudian tumbuh sampai hari ini. 

Keunikan lain dari Wangongira adalah ritual panen yang biasanya dilakukan masyarakat setempat sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta atas limpahan berkat bagi bumi Halmahera. Pada ritual tahunan yang biasanya dihelat pada bulan Juni ini akan dilakukan pelarungan sesajian di sungai Molulu.

Jika Anda tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat terpencil dan berinteraksi dengan masyarakat tradisional maka mengunjungi Wangongira wajib masuk dalam daftar perjalanan Anda.

Desa Wangongira berada di selatan wilayah Tobelo dan secara administratif termasuk dalam kecamatan Tobelo Barat. Jika Anda menggunakan kendaraan umum, maka gunakanlah mikrolet jurusan Trans Zero dari perempatan Jl. Simange-Sengkanaung, Kota Tobelo, lalu turun di desa Trans Zero. Kemudian, lanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 4 Km ke Wangongira.